Biaya Produksi Tertekan, Vinfast Kaji Dongkrak Harga Mobil

CNN Indonesia
Jumat, 22 Mei 2026 07:31 WIB
Vinfast membuka peluang untuk melakukan penyesuaian harga dilakukan apabila kondisi ekonomi dan biaya produksi semakin menekan industri otomotif.
Pabrik Vinfast di Subang, Jawa Barat. Arsip VinFast
Jakarta, CNN Indonesia --

VinFast belum akan menaikkan harga mobil listrik mereka di Indonesia meski kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus mengalami tekanan.

Meski demikian, produsen asal Vietnam itu membuka peluang untuk melakukan penyesuaian harga dilakukan apabila kondisi ekonomi dan biaya produksi semakin menekan industri otomotif.

CEO VinFast Indonesia Kariyanto Hardjosoemarto berpendapat perusahaan masih memantau perkembangan nilai tukar serta dampaknya terhadap rantai pasok dan biaya produksi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tentu itu sebagai fenomena global yang terus kami cermati. dan tentu kalau harga bahan bakunya meningkat harus dilakukan penyesuaian harga, tapi status per hari ini kami belum akan melakukan penyesuaian harga terlebih dahulu, kami masih memantau seberapa besar volatilitas nilai tukar baik rupiah, USD, dong, dan sebagainya," ujar Kariyanto di Jakarta, melansir Antara, Kamis (21/5).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut dia, VinFast masih menghitung berbagai faktor sebelum memutuskan langkah terkait harga jual kendaraan listrik di pasar domestik.

Meski VinFast telah memiliki fasilitas produksi di Subang, Jawa Barat, perusahaan masih mengandalkan impor untuk sejumlah komponen kendaraan.

"Karena memang banyak aspek, misalnya kita impor dari Vietnam, bahan baku dan lain sebagainya, kita masih mencermati," katanya.

Kariyanto menambahkan perusahaan tak ingin gegabah mengambil keputusan soal penyesuaian harga lantaran dampaknya bisa meluas ke berbagai lini bisnis.

"Karena begitu kita melakukan penyesuaian harga, itu banyak efek turunannya, ke supplier, dan berbagai pihak yang terlibat, sehingga kami tidak ingin melakukan keputusan yang terburu-buru sehingga kita masih memantau terlebih dahulu," ujar Kariyanto.

Sebelumnya, sejumlah produsen otomotif telah menyampaikan sikap terkait langkah mereka di tengah melemahnya rupiah.

Country Director Chery Sales Indonesia (CSI) Zeng Shuo bilang pihaknya masih menghitung kemungkinan penyesuaian harga kendaraan.

"Kita juga lagi lihat karena sekarang salah satu alasannya semua biaya lagi naik jadi ada faktor itu juga. Kita lagi coba kalkulasi, tapi kalau biaya tetap naik ada kemungkinan harganya naik juga," kata Zeng Shuo di Jakarta.

Sementara itu BYD mengaku telah melakukan kajian terhadap berbagai dampak kondisi ekonomi saat ini, termasuk kemungkinan kenaikan harga kendaraan.

"Kita telah memikirkan kondisi-kondisi ini melalui studi komprehensif dan sampai saat ini kami masih tetap positif dan percaya diri dengan strategi yang kami miliki, baik secara produk, harga, juga promosi-promosi yang kami akan lakukan. Kalau ditanya potensi (kenaikan harga) mungkin saja, tapi saat ini tidak dalam strategi jangka pendek kami," kata Kepala Hubungan Masyarakat dan Pemerintah PT BYD Motors Indonesia Luther Panjaitan.

(ryh/mik) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]