Rupiah Ambles Nyaris Rp18.000, Harga Mobil Bakal Naik?
Nilai tukar rupiah terhadap dolar terus bergerak naik, bahkan angkanya nyaris menyentuh angka Rp18 ribu per satu dolar. Kondisi itu dinilai mampu mendorong pabrikan mengerek harga mobil baru guna menyesuaikan nilai tukar terkini.
Di sisi lain, hal itu berpotensi memperparah daya beli masyarakat yang semakin melemah akibat tekanan ekonomi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara mengatakan kondisi nilai tukar saat ini tidak serta merta membuat harga mobil langsung bergerak naik. Kata dia industri juga memikirkan efek jangka panjangnya.
"Biasanya pelaku industri otomotif itu enggak segampang itu 'oh ini naik, hari ini kita (naikkan harga mobil)'. Kan kita bukan kayak fast moving things, perlu penghitungan," kata Kukuh melansir detik, Rabu (3/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebab kalau kemudian itu terlalu gegabah, itu yang terjadi malah sebaliknya, orang akan nahan beli. Begitu nahan beli, ini kan stoknya banyak. Stok barang jadi, yang belum jadi, komponen, dan sebagainya. Komitmen buat beli raw material. Panjang. Jadi kita jaga optimismenya," ucap Kukuh menambahkan.
Beberapa agen pemegang merek di Indonesia juga belum memiliki rencana menaikkan harga mobil. Honda misalnya yang masih mempertahankan harga mobil.
Perusahaan kini merasa diuntungkan dengan tingkat komponen dalam negeri yang tinggi, sehingga tidak terlalu bergantung pada komponen impor.
"Tentunya pelemahan rupiah sekarang ini memberi tekanan ya buat kami yang melakukan importasi, misalnya impor (CBU) ataupun komponen, juga kadang produksi buat bahan-bahan produksi kami juga ada yang masih (dibeli) menggunakan mata uang asing. Tapi sebagian besar produksi kami di pabrik Karawang itu sudah memiliki tingkat kandungan dalam negeri yang sangat tinggi, jadi bisa menahan dampak pelemahan rupiah," ungkap Sales & Marketing and After Sales Director PT Honda Prospect Motor (HPM) Yusak Billy.
Hal senada juga diungkap Head of Marketing PR and Government Relations PT BYD Motor Indonesia Luther Panjaitan.
Kata Luther, dinamika politik, geopolitik, ekonomi yang terjadi saat ini, baik di Indonesia maupun di global, memang berdampak pada adanya fluktuasi dari ongkos produksi. Kendati begitu, BYD belum berencana menaikkan harga jual mobil di Indonesia.
"BYD di Indonesia investasi jangka panjang dan kita telah memikirkan kondisi-kondisi ini dari masa-masa kita melakukan comprehensive study. Sampai saat ini kami masih tetap positif dan confident dengan strategi yang kami miliki, baik secara produk, pricing, juga promosi-promosi yang kami akan lakukan. Sampai saat ini belum ada perubahan dengan adanya situasi-situasi tersebut," kata Luther.
(ryh/fea) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]