Efek Perang, Renault Produksi Drone Tempur Buat Prancis

CNN Indonesia
Rabu, 17 Jun 2026 06:30 WIB
Renault menggandeng Thales untuk memproduksi 1.000 drone Toutatis per bulan paling cepat mulai 2027. (Renault)
Jakarta, CNN Indonesia --

Renault Group akan memproduksi drone tempur untuk memperkuat industri pertahanan Prancis, menyusul lonjakan permintaan yang dipicu perang Ukraina dengan Rusia dan pergeseran kebijakan pertahanan Eropa.

Kemitraan strategis antara Renault dan perusahaan teknologi pertahanan Thales diumumkan Selasa (16/6) di pameran pertahanan Eurosatory di luar Paris.

Produksi drone Toutatis dijadwalkan dimulai paling cepat pada 2027 di salah satu pabrik Renault, dengan kapasitas 1.000 unit per bulan sejak tahun pertama.

"Kemitraan strategis baru antara Thales dan Renault Group ini menyatukan kekuatan dua perusahaan unggulan Prancis untuk mendukung industri drone berdaulat Prancis," ujar CEO Renault Group François Provost dalam rilis resmi perusahaan.

Provost mengatakan Renault Group membantu proyek Toutatis untuk merancang, mengindustrialisasi, dan memproduksi drone dalam skala besar, dengan waktu yang lebih singkat dan biaya efisien.

"Ini merupakan kontribusi nyata terhadap inisiatif yang dilakukan bersama Kementerian Angkatan Bersenjata Prancis dan memperkuat kemampuan pertahanan Prancis maupun Eropa," lanjut Provost.

Drone Toutatis

Toutatis adalah loitering munition jarak pendek, drone yang melayang di atas area target sebelum menyerang. Sistem ini dirancang untuk konflik intensitas tinggi dan dapat dioperasikan oleh prajurit infanteri maupun diluncurkan dari kendaraan tempur, pesawat, dan platform angkatan laut.

Toutatis tahan terhadap jamming elektromagnetik dan dilengkapi hulu ledak yang bisa dikonfigurasi sesuai misi. Drone ini juga mampu beroperasi dalam formasi kawanan (swarm), dengan operator manusia yang tetap berada dalam lingkaran pengambilan keputusan.

"Kemitraan dengan Renault Group ini menandai tonggak penting dalam membangun kemampuan drone berdaulat berskala besar dan berkelas dunia," kata Chairman dan CEO Thales Patrice Caine.

"Dengan memadukan keunggulan Thales dalam teknologi canggih dan kekuatan industri Renault Group, kemitraan ini menjawab kebutuhan angkatan bersenjata sekaligus memenuhi tuntutan ekonomi masa perang," lanjut Caine.

Efek Ukraina dan Trump

Invasi Rusia ke Ukraina dan perubahan kebijakan luar negeri Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden Trump mendorong negara-negara Eropa memacu belanja pertahanan. Kondisi ini mendorong produsen senjata memanfaatkan kapasitas cadangan sektor otomotif untuk meningkatkan produksi, dikutip Reuters.

Loitering munitions sendiri telah memainkan peran sentral dalam perang di Ukraina.

Renault sebelumnya mengungkapkan pada Februari lalu bahwa pihaknya diminta langsung oleh kementerian angkatan bersenjata Prancis untuk membantu memperkuat sektor pertahanan negara.

Ini adalah kemitraan pertahanan kedua antara Renault dan Thales. Sehari sebelum pengumuman Toutatis, keduanya juga memperkenalkan 4 TROOP, kendaraan taktis yang mengintegrasikan drone, sensor, komunikasi aman hibrida, dan alat pendukung keputusan berbasis AI untuk kebutuhan angkatan darat masa depan.

Selain proyek bersama Thales, Renault menjalankan program Chorus bersama pembuat drone Turgis Gaillard untuk mengembangkan model jarak jauh, dikutip Reuters.

Demonstrator pertama diharapkan hadir akhir tahun ini, diikuti produksi 600 unit per bulan di pabrik Le Mans Renault.

Renault juga bekerja sama dengan grup Belgia John Cockerill untuk drone darat. John Cockerill Defense sebelumnya membeli produsen kendaraan militer Prancis Arquus dari produsen truk Swedia Volvo pada 2024.

Meski semakin aktif di industri pertahanan, Renault menegaskan bisnis utamanya tetap pembuatan mobil.

(fea)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK