Pertamina Sebut Kenaikan Pertamax Baru 50% Harga Keekonomian

CNN Indonesia
Kamis, 18 Jun 2026 11:00 WIB
Pertamina menyebut harga Pertamax Rp16.250 per liter mulai 10 Juni 2026 cuma 50 persen menyesuaikan harga keekonomiannya. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pertamina menjelaskan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, Pertamax, yang mengalami kenaikan pada 10 Juni 2026, belum 100 persen menyesuaikan harga pasar global. Harga saat ini, Rp16.250 per liter, dikatakan baru selisih 50 persen dari pasar global.

Pertamina Patra Niaga menjelaskan harga Pertamax series pada dasarnya mengacu pada mekanisme harga pasar sesuai formula yang telah ditetapkan pemerintah.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengatakan harga Pertamax sudah sejalan dengan informasi yang telah disampaikan pemerintah dan mengikuti perkembangan parameter pasar sesuai formula yang berlaku.

Saat ini Pertamax dibanderol Rp16.250 per liter, Pertamax Green Rp17 ribu, dan Pertamax Turbo Rp20.750.

Sementara BBM subsidi, Pertalite dan Biosolar, ditetapkan pemerintah tidak ada perubahan, masing-masing Rp10.000 dan Rp6.800.

"BBM nonsubsidi seperti Pertamax series merupakan produk yang harga jualnya disesuaikan dengan perkembangan kondisi pasar dan faktor-faktor ekonomi yang memengaruhi biaya pengadaan energi," ujar Roberth dalam keterangan resmi, Kamis (18/6).

oberth menjelaskan secara normal evaluasi harga BBM nonsubsidi dilakukan secara berkala.

"Pada prinsipnya, harga BBM non subsidi dilakukan evaluasi secara berkala setiap bulan sesuai perkembangan parameter keekonomian. Namun demikian, implementasinya tetap memperhatikan kebijakan yang ditetapkan pemerintah," kata dia.

50 persen

Di tengah kondisi dan dinamika global saat harga minyak dunia beranjak naik dampak kondisi geopolitik, ia bilang pemerintah senantiasa menjaga harga Pertamax series selalu stabil dengan tidak mengalami kenaikan signifikan.

Penyesuaian harga Pertamax yang dilakukan saat ini adalah 50 persen dari selisih harga pasar. Saat dibandingkan dengan harga BBM sejenis di negara-negara tetangga Asean, Indonesia disebut tetap lebih kompetitif demi menjaga daya beli dan perekonomian.

"Pertamina Patra Niaga terus berkomitmen menjalankan penugasan pemerintah sekaligus menjaga ketersediaan energi bagi masyarakat," ujar Roberth.

Sebelumnya Roberth pada Selasa (16/6) sempat berbicara untuk merespons viral di media sosial tentang pembelian Pertalite yang menunjukkan harga keekonomiannya Rp18.040 per liter, ini dianggap lebih mahal dari Pertamax.

Robert membenarkan harga keekonomian Pertalite Rp18.040, tetapi dia mengingatkan BBM jenis ini mendapat subsidi dari pemerintah hingga bisa dijual Rp10.000.

Selisih antara harga jual dan harga keekonomian Pertalite sebesar Rp8.040 dijelaskan sebagai beban subsidi yang ditanggung pemerintah.

"Benar, besaran Rp8.000-an itu adalah beban subsidi yang ditanggung pemerintah," ujar Roberth.

Roberth saat itu juga mengatakan harga Pertamax Rp16.250 per liter saat ini masih di bawah harga keekonomian.

"Saat ini penyesuaian kenaikan harga Pertamax masih di level sekitar 50 persen dari harga keekonomian," katanya.

Dia bilang jika disesuaikan harga keekonomian maka harga jual Pertamax bakal lebih tinggi dari saat ini, di atas Pertalite tanpa subsidi.

"Apabila Pertamax mengacu harga keekonomian yang seharusnya, maka akan lebih mahal dari Pertalite tanpa subsidi," ujarnya.

(fea)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK