Di Balik Kisruh Bioetanol E20 yang Bikin Geger India

CNN Indonesia
Rabu, 08 Jul 2026 06:30 WIB
Toyota Astra Motor (TAM) menghadirkan mobil anyar pada segmen elektrifikasi yaitu Prius HEV dan Prius PHEV pada ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2024. Khusus model HEV, statusnya telah resmi dijual dengan banderol Rp695 juta,
Video viral mobil rusak usai isi BBM E20 di India memicu kritik luas, memaksa pemerintah dan pabrikan turun tangan membela kebijakan bioetanol ini. (CNN Indonesia/Rayhand Purnama)
Jakarta, CNN Indonesia --

Video viral pemilik Toyota Innova Hycross hybrid di India yang mengeluh mobilnya rusak usai diisi bahan bakar campuran etanol 20 persen (E20) telah menjadi simbol kritik publik yang makin deras terhadap kebijakan bioetanol wajib pemerintah India.

Pemiliknya adalah Manish Kasyap, Yotuber dengan pengikut sebanyak 9,38 juta. Dalam video yang dia unggah menceritakan sampel BBM dari Innova Hycross miliknya, yang diambil di bengkel resmi Toyota, menunjukkan kadar etanol tak wajar, diklaim mencapai 40 persen, dua kali batas resmi, meski klaim ini belum terverifikasi independen.

Kasyap mengeluh mobilnya rusak karena diisi E20, lalu video itu viral dan menjadi perdebatan publik. Sementara Toyota membantah masalah itu terkait E20 dengan menyebut Innova Hycross sudah kompatibel dengan E20.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jelas terlihat bahwa insiden ini tidak berkaitan dengan penggunaan bahan bakar E20 dan semata-mata disebabkan oleh bahan bakar tak standar dan terkontaminasi," demikian pernyataan resmi Toyota, dikutip Rushlane, Sabtu (4/7).

Pendapat lain mengatakan penyebab paling mungkin pada kasus Innova Hycross itu bukan kadar etanol berlebih, melainkan phase separation. Sifat etanol yang higroskopis bisa terpisah dari bensin dan mengendap di tangki bila BBM terkontaminasi air hingga mengganggu performa mesin.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kritik atas E20 juga sebelumnya sudah meningkat lewat keluhan warga dan tekanan politik, kemudian kian panas usai Jaksa Agung India menyebut program bioetanol ini sebagai "eksperimen" dalam sidang pengadilan. Pemerintah kemudian membantah pernyataan jaksa agung itu merujuk spesifik ke E20, mengutip Autocar India.

Politikus oposisi Priyank Kharge menilai kebijakan E20 yang sudah diterapkan sejak 2023 minim konsultasi. Ratusan pengendara juga sudah turun ke jalan dalam protes anti-E20 di Jantar Mantar, New Delhi, pada 5 Juli.

Respons pemerintah

Merespons banjir kritik ini, Kementerian Informasi dan Penyiaran India menggelar konferensi pers pada 4 Juli bersama produsen Maruti Suzuki, Toyota, Hyundai, Hero MotoCorp, dan Bajaj.

Maruti Suzuki mengklaim telah menguji kendaraan era E10 dengan bahan bakar E20 tanpa temuan korosi atau ausan abnormal. Hal ini juga disebut didukung data servis 28,4 juta kendaraan sepanjang tahun fiskal 2025-2026, termasuk lebih dari 15 juta unit berusia di atas tiga tahun, tanpa masalah kerusakan terkait E20.

Maruti Suzuki mengakui E20 menurunkan efisiensi bahan bakar sekitar 3-3,5 persen dibanding E10, tapi menyebut faktor lain seperti gaya berkendara, tekanan ban, dan perawatan berpengaruh lebih besar.

Hero MotoCorp menyatakan hal serupa, analisis data servis dan garansi tak menunjukkan kenaikan kerusakan akibat E20.

Sikap industri ini berbalik dari posisi sebelumnya. Asosiasi pabrikan SIAM pada 2021 sempat merekomendasi E10 tetap tersedia sebagai bahan bakar cadangan bagi kendaraan lama, dengan alasan merepotkan produsen mengembangkan komponen untuk beragam varian lawas. Usul itu diabaikan, penerapan E20 malah dipercepat dari rencana awal 2030, dikutip Autocar India.

Blending etanol yang dimulai dari 1,5 persen pada 2013-2014 di India kini mencapai 20 persen sejak Desember 2025, lebih cepat dari target, tersedia di lebih dari 77 ribu SPBU, dikutip Rushlane.

Standar campuran lebih tinggi (E22 hingga E30) sudah dinotifikasi, dan lembaga riset ARAI ditugaskan mengkaji dampak E25 terhadap kendaraan E20 dan E10. Peta jalan jangka panjang mengarah ke E85 untuk kendaraan flex-fuel, dengan Brasil dijadikan rujukan model adopsi bertahap.

Terkait kemungkinan blending lebih tinggi, Maruti menyatakan siap.

"Kami benar-benar nyaman jika campurannya naik beberapa poin," kata Rahul Bharti, eksekutif senior Maruti Suzuki.

(fea) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]