Bahlil Yakin Mobil Hidrogen Bakal Saingi Mobil Listrik
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meyakini kendaraan berbahan bakar hidrogen bakal menyaingi mobil listrik berbasis baterai dalam lima hingga 10 tahun ke depan.
Menurut dia, perkembangan teknologi hidrogen terus maju sehingga berpotensi menjadi alternatif utama dalam transisi energi di sektor transportasi.
"Keyakinan saya paling lambat, paling lambat keyakinan saya 5-10 tahun ke depan hidrogen ini akan menyaingi kendaraan listrik yang berbasis baterai," ujar Bahlil dalam acara Global Hydrogen Ecosystem Summit and Exhibition (GHES) 2026 di Jakarta, dikutip CNBC Indonesia, Rabu (22/7).
Masih lebih mahal
Kendati optimistis, Bahlil mengakui tingginya biaya produksi masih menjadi tantangan utama pengembangan hidrogen. Meski bahan bakunya melimpah, harga energi ini dinilai belum kompetitif dibanding bahan bakar fosil maupun biodiesel.
"Problemnya adalah... nah ini tantangannya. Problemnya adalah hidrogen ini memang biayanya masih mahal dibandingkan dengan produk energi lain," ucapnya.
Ia membandingkan keekonomian hidrogen dengan biaya produksi biodiesel 50 persen (B50) nonsubsidi yang menurutnya kini berkisar Rp18.600 per liter. Berdasarkan diskusi dengan tim riset, biaya energi dari hidrogen disebut masih berada di atas angka tersebut.
"Berapa biaya selisih antara B50 non-PSO, non-PSO itu biaya industri itu kan kurang lebih sekitar Rp18.600. Kalau diumpamain dengan hidrogen ini berapa energinya ternyata masih di atas daripada harga B50. Hidrogen masih agak lebih mahal," lanjutnya.
Meski demikian, pemerintah optimistis harga hidrogen akan makin kompetitif seiring dinamika geopolitik global yang menyulitkan akses terhadap minyak mentah.
"Tetapi keyakinan saya dengan perang terus terjadi dengan geopolitik yang tidak menentu dan tidak lagi gampang untuk kita mendapatkan minyak di blok-blok yang baru maka tidak akan lama lagi harga hidrogen akan jauh lebih kompetitif dengan sumber-sumber BBM minyak lainnya," tegasnya.
Jepang versus China
Bahlil menilai persaingan teknologi hidrogen dan mobil listrik berbasis baterai sebenarnya sudah berlangsung lama. Ia menyebut Jepang termasuk negara yang mendorong pengembangan hidrogen, sementara China lebih fokus membangun ekosistem kendaraan listrik.
"Ini perdebatannya hidrogen dipimpin oleh negara di Asia juga tapi tidak perlu saya ngomonglah negara mana penelitiannya ke sana kemudian EV battery dilakukan oleh China ini kan terjadi perdebatan saingan teknologi," tuturnya.
Kendati begitu, ia menegaskan Indonesia tidak ingin berpihak pada satu teknologi tertentu. Pemerintah akan memilih teknologi yang paling sesuai dengan kepentingan nasional.
"Bagi saya adalah keberpihakan negara akan ditentukan dari yang pertama adalah tetap kita pakai energi bersih yang kedua adalah energi yang efisien dan yang ketiga adalah energi itu bisa dihasilkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia," jelas Bahlil.
Saat ini pemerintah tengah menyiapkan regulasi untuk menarik minat investor demi mempercepat pembangunan infrastruktur hidrogen di Tanah Air. Lembaga riset seperti BRIN turut diajak menemukan inovasi teknologi yang mampu menekan biaya operasional agar swasembada energi bersih bisa terwujud.
"Nah sudah barang tentu untuk menuju ke sana banyak variabel yang dibutuhkan. Yang pertama adalah memang teknologi yang kedua adalah pasar yang ketiga memang kita butuh investor dan yang keempat dalam rangka melakukan percepatan itu dibutuhkan regulasi," tandasnya.
(fea)