Pabrik Fuso di Indonesia Ngebul Maksimal Kejar Pesanan Truk Kopdes
Mitsubishi Fuso mengubah pola operasional pabriknya di Jakarta dari satu menjadi dua shift mulai Juli ini demi mengejar banjir pesanan truk untuk program Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes). Langkah itu ditempuh untuk menggandakan kapasitas produksi bulanan dari sekitar 3.500 unit, disertai perekrutan ratusan pekerja kontrak.
Seorang direktur pemasaran perusahaan penjualan Mitsubishi Fuso di Indonesia menuturkan pabrik kini berjalan tanpa sisa kapasitas.
"Kami mengoperasikan pabrik pada kapasitas penuh untuk memenuhi tenggat pengiriman hingga akhir 2026," katanya, dikutip Nikkei Asia, Rabu (22/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fuso masih memimpin pasar kendaraan niaga nasional. Sepanjang Januari-Juni 2026, penjualannya mencapai sekitar 17.500 unit atau melonjak sekitar 53 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pesanan setara setahun
Lonjakan itu ditopang pesanan sekitar 20.000 unit truk ringan Canter dari PT Agrinas Pangan Nusantara pada awal tahun ini. Jumlah tersebut hampir menyamai total penjualan Fuso di Indonesia sepanjang 2025 yang sekitar 25.000 unit.
Hino Motors juga kebagian pesanan 10.000 unit truk ringan 300 Series dari Agrinas, setara lebih dari separuh penjualannya pada 2025 sekitar 18.000 unit. Hino juga ikut menambah tenaga kerja sekaligus mempercepat produksi.
Berdasarkan kesepakatan yang diumumkan Februari lalu, total pesanan yang jatuh ke produsen dengan perakitan lokal mencapai sekitar 45.000 unit, terdiri dari Mitsubishi Fuso, Hino, Foton 13.500 unit, dan Isuzu 900 unit.
Program Kopdes Merah Putih sendiri menargetkan pembentukan 80.000 koperasi desa di seluruh Indonesia untuk menyediakan pangan dan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau, sekaligus membenahi logistik pertanian dan perikanan daerah. Pemerintah mengalokasikan Rp80 triliun (US$4,46 miliar) dari APBN untuk program tersebut pada 2026.
Agrinas selaku pelaksana operasional berencana mengadakan 80.000 kendaraan niaga dan 70.000 pikap. Total 150.000 unit itu hampir menyamai penjualan kendaraan niaga dan pikap baru di Indonesia sepanjang 2025 yang sekitar 170.000 unit.
Kritik soal impor
Di balik derasnya pesanan, program ini menuai kritik karena dinilai kurang melibatkan produsen yang memiliki fasilitas produksi di dalam negeri.
Tata Motors dan Mahindra & Mahindra, dua pabrikan India yang belum memiliki pabrik truk di Indonesia, masing-masing memperoleh pesanan 35.000 unit pikap. Tata juga mendapat pesanan tambahan 35.000 unit kendaraan niaga ringan.
Direktur Utama Agrinas Joao Mota sebelumnya beralasan pengadaan dari India dapat menekan biaya. Namun, belum jelas bagaimana pemerintah bakal mengatur inspeksi maupun perawatan kendaraan impor tersebut.
Di sisi lain, berkah pesanan ini belum tentu berlanjut. Penjualan kendaraan baru nasional, penumpang maupun niaga, terus menyusut dari puncaknya sekitar 1,2 juta unit pada 2013 menjadi sekitar 800.000 unit pada 2025 seiring melemahnya daya beli kelas menengah.
"Meskipun permintaan meningkat, itu hanya terjadi pada tahun ini. Kondisi pasar belum bisa membuat kami optimistis," ujar seorang eksekutif produsen kendaraan niaga asal Jepang.
(fea/fea) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]

