Bos Lippo James Riady Borong 20 Ribu Motor Listrik Nasional
Bos Grup Lippo James Riady disebut berkomitmen membeli 20.000 unit motor listrik nasional saat Presiden Prabowo meresmikan Motor Listrik Nasional (Molinas) beserta ekosistem pendukungnya di Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8).
Komitmen itu diungkap CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia Rosan Perkasa Roeslani ketika menyapa James saat menyampaikan pidato, yang disebutnya sebagai pemilik lahan lokasi proyek Molinas.
Lihat Juga : |
"Yang mempunyai lahan Pak James Riady dari Lippo yang tadi sempat bicara komitmen untuk beli 20.000 motor listrik," kata Rosan, dikutip dari tayangan YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (13/8). Pernyataan itu disambut tepuk tangan hadirin.
Rosan memperkirakan nilai pasar sektor motor listrik mencapai sekitar US$170 miliar atau setara Rp3.039,12 triliun (kurs Rp17.877). Adapun serapan motor listrik di dalam negeri saat ini baru sekitar 1 persen dari total pembelian motor per tahun.
Molinas diresmikan Prabowo di fasilitas produksi PT Ilectra Motor Group (ALVA), Cikarang, Kabupaten Bekasi. Proyek ini disebut sebagai kolaborasi pemerintah, badan usaha milik negara, dan pengusaha nasional.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut ekosistem Molinas mencakup pengembangan industri dan manufaktur, komponen dan baterai, infrastruktur charging dan battery swapping, pembiayaan, distribusi, layanan purnajual, hingga penguatan penyerapan pasar. PT Len Industri ditunjuk sebagai lead integrator.
Potensi pasar
Rosan menilai ruang pertumbuhan pasar motor listrik masih lebar bila dibandingkan populasi kendaraan roda dua nasional.
"Dan apalagi kalau kita lihat potensinya sekarang, kalau boleh kami laporkan, ada kurang lebih 140 juta motor yang ada di Indonesia dengan setiap tahunnya pembeliannya adalah 6 sampai 7 juta motor. Tetapi yang membeli motor listrik kurang lebih hanya 60 sampai 70 ribu. Jadi hanya 1 persen," ujarnya.
Ia menyebut sekitar 10 perusahaan nasional telah memenuhi kriteria Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dari Kementerian Perindustrian. Pengembangan Molinas juga melibatkan CTO Danantara Sigit Puji Santosa selaku pimpinan proyek untuk mendorong standardisasi internasional, dengan target menembus daya saing regional dan global.
Danantara menyiapkan skema pembiayaan bersama perbankan dan institusi keuangan di bawahnya berupa bunga lebih rendah dan tenor lebih panjang. Uang muka atau DP pembelian motor listrik yang saat ini disebut berada di kisaran 10 persen akan dipangkas hingga dihapus.
"Dari perbankan kami untuk memberikan pendanaan dengan suku bunga lebih rendah, jangka waktu lebih panjang, dan kita akan membuat agar DP-nya yang selama ini masih ada, kalau menurut informasi dari perbankan kami itu ada 10 persen, kita akan coba reduce bahkan akan kita coba hilangkan sehingga minat masyarakat untuk membeli motor listrik ini bisa berjalan dengan cepat, dengan baik," terang Rosan.
Baterai nikel
Danantara juga mendorong Molinas memakai baterai berbasis nikel untuk memperkuat rantai produksi di dalam negeri. Pengembangan diarahkan mulai dari pengolahan nikel menjadi cell battery dan battery pack hingga dipakai pada produksi motor listrik nasional.
Langkah tersebut sekaligus diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM impor dengan meningkatkan penggunaan energi listrik domestik.
"Terutama kita lihat baterai untuk listrik nasional ini kita akan dorong secara penuh untuk menggunakan nickel based. Karena nikel kita ketahui bersama 46 persen reserve nikel di dunia itu ada di Indonesia," tuturnya.
(fea)