Di luar kebiasaan, Toyota produksi mobil listrik Lexus di China

CNN Indonesia
Senin, 31 Agu 2026 04:59 WIB
The Toyota sign hangs over the company's booth at the 2017 North American International Auto Show in Detroit, Michigan, January 10, 2017. / AFP PHOTO / Geoff Robins
Toyota akan memproduksi generasi terbaru SUV listrik Lexus di Shanghai mulai 2027, membalik kebiasaan mengutamakan Jepang lebih dulu. (AFP PHOTO / Geoff Robins)
Jakarta, CNN Indonesia --

Toyota Motor menyatakan bakal memproduksi generasi terbaru SUV listrik Lexus di China mulai 2027. Cara ini di luar kebiasaan sebab biasanya pengembangan teknologi baru selalu dilakukan di Jepang sebelum menggarap pasar global.

Model itu akan dijual dengan merek Lexus dan diproduksi di pabrik baru Toyota di Shanghai mulai musim gugur tahun depan. Produksi dimulai sekitar 1.000 kendaraan per bulan pada tahun pertama, lalu berkembang menjadi puluhan ribu unit per tahun pada 2028.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Model ini disebut akan memakai teknologi mutakhir, termasuk gigacasting untuk mencetak beberapa komponen bodi aluminium sekaligus menjadi satu bagian besar.

Metode ini memangkas bobot bagian tersebut hingga 20 persen, yang diperkirakan dapat menambah jarak tempuh kendaraan. Metode produksi ini juga membuat bodi lebih kaku sekaligus menyederhanakan perakitan, sehingga mempercepat produksi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Secara historis, Toyota mengembangkan dan memproduksi kendaraan berteknologi maju di Jepang lebih dulu, baru menggarap pasar global lewat penjualan domestik dan AS. EV baru ini menjadi pengecualian langka.

Musim semi ini, Toyota bahkan menghentikan pengembangan coupe listrik generasi mendatang yang ramping di Jepang. Permintaan SUV listrik diperkirakan tinggi di China, dan persaingan kian ketat dengan rilis-rilis baru seperti SUV besar dari BYD, produsen EV terkemuka China, pada Juni.

Dengan 8,57 juta kendaraan, China menyumbang 60 persen penjualan EV global tahun lalu, kira-kira tiga kali lipat Eropa dan lebih dari 100 kali lipat Jepang, menurut firma riset asal Inggris, GlobalData. Penjualan China diproyeksikan mencapai 11,41 juta kendaraan pada 2030.

Meski penjualan EV menghadapi tantangan di Jepang, Eropa, dan AS, pasar global diperkirakan tetap berkembang dalam jangka menengah hingga panjang. China diposisikan sebagai kawasan yang akan menentukan siapa mendominasi pasar otomotif dunia.

Strategi multi-pathway

Strategi "multi-pathway" Toyota menuntut pengembangan dan produksi lokal berdasarkan kebutuhan tiap kawasan. Perusahaan tetap mengandalkan mayoritas kendaraan hibrida dan berbahan bakar bensin di pasar seperti Jepang dan AS, sembari beralih ke EV di China.

Lini EV Toyota di China saat ini mencakup SUV murah dan sedan dengan layar dari raksasa telekomunikasi China, Huawei Technologies. Penambahan lini premium seperti EV Lexus ditujukan untuk lebih memperluas penjualan.

Produsen mobil di seluruh dunia kian mempertimbangkan China dalam proses pengembangan produk. Jika lini waktu tradisional butuh empat hingga lima tahun, perusahaan EV China bisa menyiapkan produk baru hanya dalam dua tahun.

Nissan Motor menargetkan memangkas separuh waktu pengembangan modelnya menjadi 26 bulan. Volkswagen bahkan telah menggandeng produsen mobil China dan berencana merilis hingga 50 model untuk pasar itu pada 2030.

(fea)
placeholder