Kenapa Abu Vulkanis di Bodi Mobil Tak Boleh Langsung Dilap?

CNN Indonesia
Senin, 07 Sep 2026 17:56 WIB
Warga menunjukkan abu vulkanik di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (5/9/2026). Berdasarkan keterangan Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau embusan angin yang mengarah ke timur membawa material abu vulkanik tersebut hingga melanda daratan pesisi
Abu vulkanik yang menempel di mobil mengandung silika abrasif dan sulfur destruktif, pakar ITB menyarankan pembilasan air mengalir sebelum dilap. (ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas)
Jakarta, CNN Indonesia --

Erupsi Gunung Anak Krakatau sejak Jumat (4/9) malam membuat abu vulkanik menyebar hingga Jabodetabek dan menempel di bodi kendaraan warga. Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu mengingatkan pemilik mobil tidak sembarangan membersihkannya karena berisiko merusak komponen secara permanen.

"Membiarkan abu vulkanik menumpuk di mobil sangat merugikan dan berisiko merusak kendaraan secara permanen, karena abu vulkanik mengandung silika yang teksturnya tajam dan sulfur yang sangat destruktif jika dibiarkan terlalu lama," kata Yannes kepada Antara, Minggu (6/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Silika dan sulfur

Silika atau silikon dioksida adalah mineral berbentuk kristal keras yang menjadi bahan dasar pasir kuarsa dan kaca.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tingkat kekerasannya jauh melampaui lapisan clear coat dan cat bodi mobil, sehingga partikel silika yang bergesekan dengan permukaan mudah meninggalkan goresan halus hingga baret.

Sementara sulfur bersifat destruktif ketika bercampur air. Senyawa belerang dalam abu vulkanik ini dapat membentuk larutan asam yang korosif terhadap cat, karet, dan komponen logam kendaraan bila didiamkan menempel dalam waktu lama.

"Partikelnya dapat mengandung material mineral dan pecahan vulkanik yang keras serta abrasif. Kalau langsung dilap atau digosok dalam keadaan kering, bisa menimbulkan goresan halus pada clear coat maupun kaca," ujar Yannes.

Risiko baret bertambah ketika abu bercampur air, embun, atau gerimis kemudian dibiarkan mengering di permukaan bodi. Endapan itu berpotensi menciptakan kondisi yang lebih korosif terhadap cat kendaraan.

Cara aman

Yannes menyarankan pemilik mobil yang belum terpapar memarkirkan kendaraan di tempat tertutup. Car cover boleh dipakai, tetapi hanya jika permukaan mobil sudah dibersihkan.

Memasang atau menggeser penutup pada bodi yang sudah berdebu abu justru memperbesar risiko baret akibat gesekan kain dengan partikel vulkanik.

Untuk mobil yang sudah terpapar, langkah pertama bukan mengambil kain lap. Yannes menekankan pentingnya membilas kendaraan dengan air mengalir bervolume besar dari bagian atas ke bawah tanpa sentuhan spons atau lap terlebih dahulu.

Wiper sebaiknya diangkat sebelum pembilasan dan tidak diaktifkan saat kaca masih kering. Setelah endapan abu terangkat, kendaraan dapat dicuci dengan sampo mobil, dibilas, lalu dikeringkan memakai kain mikrofiber. Karet wiper juga perlu dibersihkan dalam kondisi basah sebelum digunakan kembali.

"Yang perlu dihindari adalah membasahi abu sedikit lalu membiarkannya mengering kembali di permukaan kendaraan. Air dalam jumlah cukup untuk membilas seluruh partikel justru menjadi cara paling aman," ucap Yannes.

(fea)
placeholder