Persatuan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) mengusulkan skema insentif otomotif berbasis emisi gas buang agar dapat dinikmati oleh lebih banyak lapisan masyarakat.
Wakil Ketua Umum Periklindo Achmad Rofiqi menyampaikan skema insentif tersebut tidak hanya terbatas secara eksklusif bagi pengguna mobil listrik.
Rofiqi menilai penerapan insentif berbasis emisi merupakan langkah inklusif untuk mempercepat penekanan polusi. Semakin rendah tingkat emisi gas buang yang dihasilkan suatu kendaraan, maka semakin besar insentif yang berhak didapatkan oleh konsumen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi bagaimana insentif ini bisa berbasis emisi gas buang. Jadi bagaimana insentif bisa dinikmati oleh seluruh lapisan, jadi tidak eksklusif hanya untuk kendaraan listrik," kata Rofiqi dalam Evolution Forum CNN Indonesia, Rabu (30/9).
Lihat Juga :![]() Evolution Forum Pasar EV Terus Tumbuh di Indonesia, Tahun Ini Tembus 16% |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, skema itu dapat membuka ruang bagi teknologi ramah lingkungan lainnya untuk mendapatkan dukungan pemerintah, termasuk penggunaan bahan bakar nabati seperti B50 yang memiliki emisi lebih rendah.
"Semakin rendah emisi gas buangnya, semakin tinggi insentifnya. Ini hal ini termasuk mungkin B50, mungkin dengan emisi gas buang yang lebih rendah karena memakai bahan nabati," ujarnya.
Selain itu, Periklindo juga mendorong kepastian regulasi jangka menengah hingga panjang juga dibutuhkan industri.
Rofiqi mengatakan pemerintah pusat dan daerah diharapkan dapat melakukan harmonisasi kebijakan minimal untuk kurun waktu 3 hingga 5 tahun ke depan untuk memberikan kepastian bagi investor maupun konsumen.
"Kepastian ini sangat penting bagi investor dan juga bagi sisi konsumen. Jadi bagaimana konsumen juga bisa menentukan pilihannya untuk membeli kendaraan listrik berdasarkan kebijakan yang berlaku," kata Rofiqi.
Lihat Juga : |

