Mesin Diesel Kendaraan di RI Didorong Dirancang Sesuai B50

CNN Indonesia
Rabu, 30 Sep 2026 17:15 WIB
Menurut Guru Besar Universitas Pertamina, meski saat ini RI sudah menerapkan biodiesel B50, mesin kendaraan diesel yang ada di dalam negeri tidak dirancang untuk BBM ini. (Tangkapan Layar Youtube CNN Indonesia TV)
Jakarta, CNN Indonesia --

Guru Besar Universitas Pertamina Iman Kartolaksono Reksowardojo menyebut Indonesia perlu mengembangkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang mampu membuat mesin sesuai kondisi bahan bakar di dalam negeri, seperti biodiesel B50.

"Masalahnya itu jadi kita harusnya kemampuan SDM-SDM yang bisa membuat seperti itu gitu jadi industri otomotifnya harus bisa mengikuti itu. Itu bisa kalau kita punya bargain power yang kuat gitu kalau kamu mau jualan di sini rubahlah, kayak biodiesel akhirnya mereka bisa menyesuaikan," ujar Iman dalam acara EVolution Forum yang digelar CNN Indonesia, Rabu (30/9).

Pernyataan ini menyusul ucapannya soal berbagai bahan bakar selain bahan bakar fosil yang memiliki kualitas lebih tinggi.

"Sebetulnya kalau kita lihat secara teliti ya, bahan bakar nabati apakah itu biodiesel atau apapun itu kualitas bahan bakarnya itu lebih tinggi dibandingkan fosil. Contohnya, biodiesel itu angka cetananya lebih tinggi. Viskositasnya slightly lebih tinggi. Terus, banyak yang lebih bagus ya," jelasnya.

Kendati demikian, dia bilang mesin kendaraan yang dijual di Indonesia masih dirancang untuk bahan bakar fosil murni. Ini akhirnya menjadi masalah, menurutnya, karena kualitas menjadi lebih turun.

"Tapi masalahnya saya katakan bahwa yang dipakai mobilnya atau enjinnya itu dirancang untuk bahan bakar fosil nah jadi turun gitu ya," kata Iman.

Iman pun mengakui bahwa jika secara massa volume akan terlihat lebih boros jika menggunakan opsi bahan bakar lain. Namun, secara satuan energi justru lebih irit.

"Apalagi kalau si enginenya memang didesain atau dibuat sesuai dengan kebutuhan bahan bakarnya. Seperti di Brazil itu flex-fuel vehicle itu dirancang seperti itu jadi lebih hemat gitu ya, " lanjutnya.

Ia kemudian mendorong adanya kemampuan SDM yang dapat mengembangkan mesin tersebut sehingga industri otomotif untuk mengikuti alur perkembangan.

"Jadi, sebetulnya kalau kita ngerti itu dengan kemampuan SDM yang baik, kita bisa bermain di situ," tutupnya.

(mou/fea)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK