Larangan Mobil China Berpotensi Seret Mercedes Keluar Pasar AS

CNN Indonesia
Kamis, 01 Okt 2026 09:29 WIB
RUU larangan mobil China di AS menyasar perusahaan dengan kepemilikan China lebih dari 15 persen, ambang yang ikut menyeret Mercedes-Benz. (Drew Angerer/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Rancangan undang-undang (RUU) larangan permanen kendaraan China di Amerika Serikat berpotensi menyeret Mercedes-Benz keluar dari pasar AS.

RUU yang disetujui Komite Perdagangan Senat AS pada Juli itu melarang perusahaan dengan kepemilikan entitas China lebih dari 15 persen menjual kendaraan di AS. Sementara itu, Mercedes-Benz memiliki hampir 20 persen kepemilikan pasif dari entitas China.

Meski begitu, salah satu pengusung RUU, Senator Republik Bernie Moreno, menegaskan pabrikan Jerman itu tidak akan dilarang berjualan di AS.

"Yang tidak akan kami lakukan, tentu saja, adalah melarang kendaraan Mercedes-Benz di Amerika," kata Moreno, dikutip Reuters, Selasa (29/9).

Ia menambahkan, "ada kekhawatiran, bisakah mereka mencapai 15 persen tanpa melumpuhkan perusahaan mereka?"

Ditunda ke November

Moreno semula berencana mengajukan persetujuan jalur cepat pekan ini, sebelum Senat reses menjelang pemilu Kongres November.

Staf Kongres pada Rabu (30/9) menyebut Moreno dan pengusung utama lainnya, Senator Demokrat Elissa Slotkin, baru akan mengajukan persetujuan setelah Senat kembali dari reses pada November.

Menurut Slotkin, seluruh senator Demokrat mendukung RUU ini dan hanya Senator Republik Rand Paul yang menentang.

"Sepemahaman saya, 99 banding 1," ujarnya.

Para pendukung RUU gagal menjawab keberatan Paul, yang menilai RUU ini secara tidak adil menyasar Mercedes-Benz.

"Jika mereka mengeluarkannya dari RUU, saya sudah bilang kepada mereka bahwa RUU itu bisa jalan. Mereka harus mengeluarkannya. Sebuah RUU tidak semestinya menyerang satu perusahaan secara langsung," tutur Paul.

Moreno juga menyebut ada pembahasan agar Volvo Cars, yang mayoritas dimiliki Geely Holding asal China, tetap bisa berjualan di AS. Aston Martin dan Lotus, yang masing-masing 17 persen dan mayoritas sahamnya dimiliki Geely, juga bisa terkena larangan.

Tudingan ke GM

Saat RUU disetujui komite pada Juli, Ketua Komite Perdagangan Senat Ted Cruz memperingatkan ketentuan 15 persen akan melarang Mercedes-Benz berjualan di AS dan menyebut RUU perlu diubah sebelum menjadi undang-undang.

Cruz juga menuding General Motors (GM) mendorong ketentuan tersebut untuk menyingkirkan Mercedes-Benz dari pasar dan membuat merek Cadillac lebih kompetitif.

Mercedes-Benz dan GM saat itu belum menanggapi permintaan komentar. Moreno kala itu menyebut Mercedes-Benz punya waktu hingga 2030 untuk memenuhi ketentuan dan bisa mendapat pengecualian bila diperlukan.

Sikap Trump

Versi DPR AS kini didukung lebih dari 100 pengusung bersama, sementara produsen mobil dan staf legislatif berharap RUU disahkan tahun ini.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump kepada Fox News pada September menyatakan bersedia menerima produsen mobil China membangun mobil di AS. Pernyataan itu memicu kekhawatiran di kalangan produsen mobil.

Produsen, pemasok, dan diler mendesak Trump "untuk mempertahankan kebijakan yang menjaga pintu tetap tertutup rapat bagi produsen mobil China yang ingin menjual, mengimpor, atau memproduksi kendaraan di AS."

Regulasi pemerintahan Biden pada awal 2025 secara efektif melarang semua produsen mobil China menjual atau membangun mobil penumpang di AS, dengan alasan mereka dapat mengirim data sensitif pengemudi ke China. AS juga menerapkan tarif lebih dari 100 persen untuk mobil listrik China.

Moreno dan Slotkin mengajukan RUU ini untuk mengukuhkan regulasi tersebut ke dalam undang-undang.

Kementerian Luar Negeri China sebelumnya mendesak AS "menghormati hukum ekonomi pasar dan prinsip persaingan yang adil." Beijing juga mengkritik usulan-usulan sebelumnya terhadap perusahaan China sebagai "penindasan yang tidak masuk akal."

(fea)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK