Segala urusan membeli mobil baru sekarang sudah bisa dilakukan secara online, mulai dari riset hingga transaksi pembayaran, yang sebelumnya terpusat di dealer. Meski saat ini terjadi pergeseran, keberadaan dealer tetap dibutuhkan sebab peran sepenuhnya belum tergantikan.
Calon pembeli mobil sekarang tak perlu repot datang ke dealer untuk mengetahui spesifikasi, rupa mobil, harga, atau perbandingan antarmodel incaran. Semua informasi itu tersedia di situs resmi, media sosial, hingga video ulasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cara itu membuat konsumen punya pengetahuan luas, memahami lebih dalam soal mobil yang dijadikan target dan kemungkinan besar sudah bisa memilih apa yang diinginkan.
Begitu pula dengan transaksi, kini sudah ada mobil-mobil baru yang dijual di marketplace jadi pembelian bisa dilakukan online. Terkadang mekanisme ini juga didukung pembiayaan alternatif yang bisa jadi cocok dengan kondisi keuangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dealer masih dibutuhkan
Meski modern, pola pembelian mobil baru itu bukan untuk semua orang. Masih banyak yang belum percaya melakukan transaksi pembelian ratusan juta di internet, lalu ada juga orang-orang yang tidak yakin membeli bila tak pernah lihat langsung wujud mobilnya.
Di titik inilah fungsi dealer masih diperlukan. Dealer tetap menjadi tempat konsumen memastikan pilihan, berkonsultasi soal kebutuhan dan skema pembiayaan, hingga memahami layanan purnajual.
Lalu ada juga hal penting yang sebenarnya wajib dilakukan sebelum meminang mobil baru, yaitu test drive. Foto dan video tak akan bisa menggantikan pengalaman duduk di balik kemudi.
Warna bodi juga bisa terlihat berbeda di layar, sementara impresi kenyamanan posisi duduk, visibilitas, dan jangkauan tombol hanya bisa dinilai setelah disentuh langsung.
Begitu pula karakter berkendara. Akselerasi, tingkat kebisingan, pengereman, kendali setir, hingga bantingan suspensi baru bakal terasa saat test drive.
Peran dealer juga tidak berhenti setelah serah terima kendaraan. Perawatan berkala dan perbaikan tetap membutuhkan bengkel fisik, lengkap dengan teknisi tersertifikasi, peralatan diagnostik, dan pasokan suku cadang.
Lokasi bengkel dealer yang dekat juga menghemat waktu pemilik kendaraan.
Di sisi lain, layanan purnajual dan ketersediaan suku cadang kerap disorot konsumen saat menimbang membeli mobil baru. Hal ini bukan cuma soal layanan tapi jadi salah satu parameter kepercayaan publik pada suatu merek.
Digitalisasi bukan lawan, tetapi jadi kawan karena bisa melengkapi peran dealer. Suzuki Indomobil Sales (SIS) misalnya, punya fitur yang menghubungkan langsung pelanggan dengan jaringan dealernya lewat aplikasi MySuzuki.
"Melalui aplikasi ini, pelanggan bisa memesan jadwal servis, memantau status kendaraan, menerima pengingat servis otomatis, mencari dealer terdekat, membeli suku cadang resmi, hingga mengumpulkan poin yang bisa ditukar potongan harga servis. Namun, pengerjaan kendaraan tetap berlangsung di bengkel resmi," ujar Donny Saputra, Deputy Managing Director PT Suzuki Indomobil Sales, di keterangan resminya.
Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah dealer mobil di Indonesia berhenti beroperasi, sebagian beralih melayani merek baru. Gaikindo menilai fenomena ini sebagai buah persaingan yang kian ketat.
Menurut Gaikindo, merek dituntut mampu bersaing dari sisi harga, model, desain, fitur, hingga layanan purnajual. Artinya, dealer yang tak mengikuti perubahan perilaku konsumen berisiko tertinggal, bahkan terpaksa tutup.
Sejumlah dealer kini mulai merancang showroom sebagai ruang pengalaman, dengan area tunggu yang nyaman, ruang konsultasi, kafe, hingga menawarkan layanan digitalisasi yang relevan.
Pada akhirnya, dealer tetap dibutuhkan bukan karena konsumen kekurangan informasi, melainkan karena keputusan membeli mobil butuh keyakinan, pengalaman langsung, dan jaminan layanan setelahnya.
(fea)

