Honda dilaporkan bakal me-rebadge pikap Mitsubishi Triton kemudian menjualnya di Asia Tenggara dan wilayah lain. Pikap Triton dengan emblem Honda ini bakal diproduksi di Thailand dan penjualannya ditargetkan paling cepat 2028.
Rencana itu disebut menjadi rebadge pertama Honda dalam sekitar tiga dekade, dikutip Nikkei Asia, Sabtu (10/10). Di luar mobil yang dikembangkan bersama General Motors, Honda terakhir mengambil mobil dari pihak lain pada 1990-an, yakni SUV dari Isuzu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Langkah merancang ulang Triton ini merupakan bagian dari pembicaraan kerja sama Honda, Nissan, dan Mitsubishi Motors sejak Agustus 2024. Namun sejauh ini belum ada pernyataan resmi dari Honda maupun Mitsubishi Motors.
Triton terjual sekitar 130 ribu unit pada 2025. Kabinnya terpasang di atas sasis ladder frame dan dikenal tangguh di medan off-road.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Honda tidak memproduksi kendaraan ladder frame. Menurut Carscoops, pikap Honda saat ini, Ridgeline di Amerika Utara, memakai struktur unibody berbasis SUV Pilot.
Triton versi Honda akan diproduksi di Laem Chabang, Thailand, dan dijual lewat dealer Honda.
Rebadge lazim dilakukan pabrikan untuk mengisi celah lini produk. Nissan dan Mitsubishi Motors pernah saling memasok model, sementara Toyota menjual model Suzuki dan Daihatsu dengan mereknya sendiri.
Tekanan merek China
Nikkei menyebut Honda berubah sikap setelah puluhan tahun berjalan sendiri. Investasi teknologi terus membengkak, sementara pabrikan China makin banyak merebut konsumen di luar negeri.
Hingga beberapa tahun lalu, pabrikan Jepang menguasai sekitar 90 persen pasar Thailand dan Indonesia. Kini porsinya menyusut ke 70 sampai 80 persen seiring konsumen melirik mobil listrik merek China seperti BYD.
Penjualan gabungan Honda di Thailand, Malaysia, dan Indonesia pada Januari sampai Agustus 2026 turun 20 persen secara tahunan ke kisaran 110 ribu unit.
Dibanding mobil penumpang, pikap lebih lambat beralih ke model elektrifikasi karena butuh daya angkut dan daya derek tinggi, sehingga persaingan dengan merek China relatif lebih ringan. Lewat rebadge, Honda ingin memperluas lini sambil menekan biaya pengembangan.
Untung bagi Mitsubishi
Kerja sama ini akan membantu Mitsubishi Motors meningkatkan utilisasi pabrik. Pabriknya di Thailand berkapasitas sekitar 386 ribu unit, tetapi hanya memproduksi sedikit di atas 170 ribu unit pada 2025.
Takaki Nakanishi dari Nakanishi Research Institute menilai Honda dan Mitsubishi Motors "bisa saling menutupi kelemahan masing-masing."
Selama ini, Mitsubishi Motors fokus mengembangkan kendaraan off-road dan PHEV. Honda, yang tidak memproduksi PHEV di Jepang, akan mempertimbangkan mengambil model jenis ini dari Mitsubishi.
Pembicaraan kemitraan ketiga pabrikan sempat mandek, tetapi kebangkitan merek China mendorong percepatan. Honda dan Nissan pada Agustus lalu sepakat bekerja sama di teknologi software-defined vehicle.
(fea)

