Kia Sales Indonesia (KSI) memproyeksi pertumbuhan pasar mobil listrik (Battery Electric Vehicle/BEV) di Indonesia pada 2027 mendatang bakal berjalan stagnan dipicu penghentian insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari pemerintah sejak tahun ini.
Pemerintah sudah menyetop insentif BEV sejak 31 Desember 2025 untuk unit impor completely built up (CBU) dan completely knock down (CKD).
Insentif CBU yang dihentikan adalah bea nol persen dari seharusnya 50 persen dan PPnBM nol persen dari seharusnya 15 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan insentif CKD yang tak dilanjutkan yaitu Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 10 persen untuk pabrikan yang melakukan CKD dan telah memenuhi TKDN 40 persen.
Pemerintah sudah mewacanakan berbagai macam insentif baru untuk kendaraan listrik pada tahun ini, tetapi belum satu pun terealisasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
VP Operation KSI Harry Yanto menyampaikan skema insentif dan subsidi pemerintah memegang peranan kunci mendorong pertumbuhan industri serta daya beli masyarakat terhadap kendaraan listrik murni.
"EV sekarang saat ini memang sudah semakin banyak berkembang, ya. Saya lihat seperti itu. Dan pemerintah sendiri juga sepertinya sedang men-stop untuk mensubsidi yang namanya PPN. Jadi mungkin market-nya masih akan tetap seperti itu," ujar Harry saat ditemui usai peresmian dealer Kia Puri, Jakarta, Rabu (28/10).
"Walaupun ada growth-nya juga enggak terlalu banyak kecuali pemerintah kembali lagi memberikan insentif," ucap dia lagi.
Menurut Harry, tanpa insentif berisiko melambungkan harga jual EV di pasaran, yang pada akhirnya dapat menahan laju adopsi kendaraan ramah lingkungan oleh konsumen luas.
"Karena tanpa ada perhatian dari pemerintah mengenai subsidi ini, harganya kan pasti akan lebih mahal dan kembali lagi industri akan berbeda lagi," katanya.
Merespons dinamika kebijakan insentif serta arah pergeseran tren pasar, KSI mulai menyiapkan langkah antisipasi dengan merancang diversifikasi produk. Perusahaan tidak hanya berfokus pada pengembangan lini kendaraan listrik berbasis baterai (BEV), melainkan juga membuka peluang memboyong teknologi elektrifikasi lain seperti hybrid (HEV) hingga plug-in hybrid (PHEV).
Langkah tersebut sejalan dengan wacana Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang sempat mengusulkan skema insentif untuk kendaraan berteknologi hybrid, plug-in hybrid (PHEV), dan range extended electric vehicle (REEV) guna menekan emisi sekaligus menyajikan opsi kendaraan hemat bahan bakar yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
"Kita sedang meracik beberapa produk yang ke depannya tentunya akan sesuai dengan kebutuhan dari customer. Tidak hanya mobil EV, tapi juga ada mobil HEV, ya, hybrid ataupun juga ada kemungkinan kita masukkan yang plug-in hybrid," tutur Harry.
(hjn/fea)