Mitsubishi Fuso Ungkap Tantangan Adopsi Truk Listrik di Indonesia

CNN Indonesia
Kamis, 05 Nov 2026 09:00 WIB
Fuso eCanter di GIIAS 2024.
Mitsubishi Fuso memproyeksikan adopsi truk berbasis listrik murni masih memerlukan kesiapan matang, baik dari sisi produsen maupun pelaku industri logistik. CNNIndonesia/Chandra Erlangga
Jakarta, CNN Indonesia --

Industri kendaraan komersial di Indonesia terus bergerak dinamis di tengah transisi menuju era elektrifikasi. PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) selaku distributor resmi Mitsubishi Fuso memproyeksikan adopsi truk berbasis listrik murni masih memerlukan kesiapan matang, baik dari sisi produsen maupun para pelaku industri logistik.

Sejak meluncurkan truk listrik eCanter pada 2024 lalu sebagai bentuk langkah awal dan peran pionir, KTB menyadari penetrasi kendaraan komersial bertenaga baterai masih dihadapkan pada sejumlah tantangan teknis di lapangan.

Sales and Marketing Director PT KTB Aji Jaya, menjelaskan tantangan utama yang dihadapi saat ini mencakup keterbatasan jarak tempuh akibat kapasitas baterai, ketersediaan infrastruktur pengisian daya (charging station), hingga kalkulasi benefit bagi pelaku usaha.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ya, sampai sekarang kan memang apa ya, kendaraan truk listrik ini masih berevolusi. Artinya kita dari 2024 itu sebagai pionir baru memulai penjualan truk berbasis listrik. Tentunya banyak hal-hal yang masih harus disiapkan oleh kami dan juga oleh konsumen," ujar Aji di Jakarta, Rabu (4/11).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Aji menambahkan, hingga saat ini penetrasi eCanter masih menyasar korporasi skala global yang memiliki komitmen ketat terhadap pengurangan emisi karbon. Kendati demikian, KTB terus membuka ruang kolaborasi dan uji coba berkelanjutan sembari menunggu kesiapan infrastruktur serta regulasi pendukung dari pemerintah.

Senada dengan KTB, perusahaan logistik mitra Fuso, PT Trimitra Trans Persada (B-Log), menilai penggunaan truk listrik secara masif untuk armada komersial harian masih memerlukan penyesuaian operasional yang tidak sedikit.

Chief Innovation Officer B-Log Gerry Ardian, menyebutkan faktor waktu pengisian daya (charging time) serta intensitas operasional logistik yang berjalan 24 jam menjadi pertimbangan utama.

"Kita sudah kaji beberapa produsen, salah satunya juga dengan Fuso sudah pernah trial di tempat kita. Memang saat ini salah satu handicap yang tadi Pak Aji sudah bilang mengenai jarak tempuh. Yang kedua pasti charging time. Di salah satu DC kita saja kita punya pengiriman satu pull itu sampai 100 kendaraan. Nah, ini dengan kita jalan 24 jam dan charging time-nya masih cukup lama, buat ngatur ngecas 100 truk aja itu jadi PR sendiri tuh buat kita," ungkap Gerry.

Meski demikian, para pabrikan otomotif akan terus menyempurnakan teknologi baterai dengan jarak tempuh yang lebih panjang dan waktu pengisian daya yang jauh lebih efisien. Pihak KTB memastikan akan terus memantau perkembangan regulasi pemerintah serta kesiapan pasar guna menyongsong era mobilitas logistik yang lebih ramah lingkungan di masa depan.

(hjn/mik)
placeholder
LIHAT SELENGKAPNYA