Produsen Otomotif Minta Kongres AS Permanenkan Larangan Mobil China

CNN Indonesia
Jumat, 06 Nov 2026 14:00 WIB
Ekspansi industri otomotif China telah terbukti di kawasan Eropa. Uni Eropa mencatat impor lebih dari 1,1 juta unit kendaraan dari China pada delapan bulan pertama 2026, melampaui total volume impor sepanjang 2025.
Ekspansi industri otomotif China telah terbukti di kawasan Eropa. Uni Eropa mencatat impor lebih dari 1,1 juta unit kendaraan dari China pada delapan bulan pertama 2026, melampaui total volume impor sepanjang 2025. AFP/-
Jakarta, CNN Indonesia --

Alliance for Automotive Innovation atau asosiasi produsen kendaraan yang mewakili hampir seluruh pabrikan otomotif di Amerika Serikat (AS) mendesak pembuat undang-undang Kongres AS untuk mengesahkan larangan permanen terhadap kendaraan asal China. Desakan ini disampaikan jelang kembalinya para anggota dewan ke parlemen pekan depan untuk menjalani sesi singkat usai pemilu.

Dikutip Reuters, Jumat (6/11) permintaan ini mengemuka setelah para sponsor bipartisan di Senat AS pada September 2026 sepakat menunda percepatan pembahasan RUU larangan kendaraan China hingga November 2026, meski aturan tersebut mendapat dukungan luas.

Head of Alliance for Automotive Innovation, John Bozzella, menyatakan langkah tegas dari parlemen sangat dibutuhkan untuk melindungi pasar domestik dari ancaman penetrasi produk kendaraan asal China. Asosiasi ini menaungi raksasa otomotif global seperti General Motors, Toyota, hingga Volkswagen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita perlu melindungi pasar AS dari banjir impor China yang membawa risiko pengawasan intelijen dan merugikan produsen saat ini yang telah melakukan investasi lintas generasi di komunitas Amerika," ujar Bozzella.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat ini, produsen otomotif asal China menghadapi tarif impor sebesar 100 persen untuk kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Pabrikan China juga dilarang melakukan penjualan di wilayah AS akibat kekhawatiran atas keamanan data serta keamanan nasional.

Kebijakan pembatasan tersebut diterapkan sejak era pemerintahan Presiden Joe Biden, bersamaan dengan aturan penolakan hak insentif pajak federal bagi kendaraan listrik jika komponen baterai atau mineral penting berasal dari perusahaan yang terhubung dengan China.

Guna menutup seluruh celah masuk kendaraan asal China, parlemen AS sebelumnya telah mengusulkan dua rancangan undang-undang, yaitu Connected Vehicle Security Act dan Protecting America from Chinese Cars Act.

Connected Vehicle Security Act berfokus pada pengawasan teknologi, keamanan siber, serta kedaulatan data. Rancangan undang-undang ini telah diloloskan oleh komite Senat pada Juli 2026 dan kini menantikan pemungutan suara penuh di tingkat Senat.

Sementara itu, Protecting America from Chinese Cars Act berfokus pada penegakan hukum perdagangan, struktur korporasi, serta celah rantai pasok. Aturan ini secara eksplisit melarang kendaraan China memasuki pasar AS melalui negara mitra perdagangan bebas seperti Meksiko atau Kanada.

Rancangan ini juga melarang penjualan kendaraan yang dirancang, diproduksi, atau didistribusikan oleh entitas yang sahamnya dimiliki sebesar 15 persen atau lebih oleh induk perusahaan China maupun entitas milik pemerintah China.

John Bozzella mengingatkan ancaman ekspansi industri otomotif China telah terbukti di kawasan Eropa. Uni Eropa mencatat impor lebih dari 1,1 juta unit kendaraan dari China pada delapan bulan pertama 2026, melampaui total volume impor sepanjang 2025.

"Mengingat risiko keamanan nasional yang nyata dan pola perilaku tidak adil dari China, Kongres harus melindungi basis manufaktur canggih serta pertahanan kita, dan menghentikan pembuat mobil China melakukan di sini apa yang telah mereka loloskan di Eropa," tegas Bozzella

Kini, para pelaku industri otomotif mengkhawatirkan kecukupan waktu bagi Kongres untuk mengesahkan larangan permanen tersebut sebelum masa sidang Senat berakhir pada pertengahan Desember 2026.

(hjn/mik)
placeholder
LIHAT SELENGKAPNYA