Media Asing Kaitkan Pilkada dengan Politik Islam

CNN Indonesia, CNN Indonesia
Rabu, 27/06/2018 14:04 WIB
Media Asing Kaitkan Pilkada dengan Politik Islam
Ilustrasi Pilkada 2018. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemilihan Kepala Daerah Indonesia 2018 yang digelar pada Rabu (27/6) disorot sejumlah media asing dari berbagai sudut pandang, termasuk isu kebangkitan politik Islam.

Puluhan juta warga Indonesia menggunakan hak suaranya untuk berpartisipasi dalam pemilihan kepala daerah serentak hari ini.

Pemilihan 171 wali kota, bupati dan gubernur disebut-sebut sebagai ajang pemanasan jelang pilpres 2019.

Dalam laporannya, kantor berita Reuters menggambarkan Novel Bamukmin dari Front Pembela Islam yang menyerukan pergantian presiden dalam salah satu ceramahnya di masjid.
"Beberapa pemimpin Islam muncul sebagai oposisi paling vokal Presiden Joko Widodo, yang diperkirakan akan kembali mencalonkan diri tahun depan," tulis Reuters.

"Mereka adalah bagian dari kelompok lepas Islamis di balik protes yang berujung pada kekalahan dan pemenjaraan atas penistaan agama pada 2017 terhadap gubernur etnis China dan Kristen, Basuki Tjahaja Purnama, sekutu Widodo."

Reuters menyoroti Jokowi yang berjanji menjaga tradisi pluralisme dan Islam moderat, juga kebijakannya melarang Hizbut Tahrir. Organisasi itu disebut "kelompok garis keras dengan ambisi mendirikan kalifah Islam."

Selain itu, kantor berita tersebut juga mengangkat tudingan-tudingan yang menyebut Jokowi bukan Islam dan merupakan keturunan komunis China.
"Satu-satunya cara bagi oposisi untuk menang adalah menghilangkan anggapan bahwa Jokowi adalah bagian dari massa, dan menyerang titik terlemahnya, yakni rasa malunya dalam menunjukkan agama," kata Achman Sukarsono, analis politik di Control Risk, dikutip Reuters.

Sementara itu, Al Jazeera menceritakan pembangunan gereja katolik yang merupakan "simbol kampanye Rahmat Effendi, wali kota Bekasi."

Rahmat mengizinkan pembangunan gereja tersebut meski ditentang masyarakat setempat. Keputusan itu diambil setelah sejumlah pemimpin gereja melobi pendahulunya selama 17 tahun, tanpa hasil.

"Kita punya 340 ribu non-Muslim di Bekasi, mereka butuh tempat ibadah. Itu bukan berarti mereka ingin menyebarkan agama. Mereka hanya ingin berdoa," kata Rahmat, dikutip Al Jazeera.
"Ada rumor dan berita palsu menyebar dari masjid ke masjid bahwa saya akan membangun 500 gereja, dan perang salib akan segera terjadi," ujarnya. "Tapi kami bertindak cepat bersama polisi untuk menangkap yang bertanggung jawab menyebarkan kebohongan."

Sementara itu, sejumlah media lain menyoroti masalah keamanan hingga kaitan Pilkada 2018 dengan peluang Jokowi memenangkan Pilpres 2019.

Saat berita ini diturunkan, proses hitung cepat telah dimulai. Siapapun yang terpilih kelak punya banyak pekerjaan rumah menanti, dari mengatasi persoalan intolerasi, ketimpangan hingga kesejahteraan.

(aal)