Analisis

Puti Guntur, 'Trah Sukarno' dan Menjaga Simbol PDIP di Jatim

Abi Sarwanto , CNN Indonesia
Sabtu, 13/01/2018 13:14 WIB
Puti Guntur, 'Trah Sukarno' dan Menjaga Simbol PDIP di Jatim
Nama Puti Guntur Sukarno (kedua dari kiri) menjadi cawagub untuk cagub Gus Ipul (ketiga dari kiri) di Jatim dinilai karena berada dalam garis keturunan sang proklamator RI, Soekarno. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah Abdullah Azwar Anas memilih mundur untuk disandingkan jadi calon wakil gubernur mendampingi Saifullah Yusuf (Gus Ipul) maju dalam Pilkada Jawa Timur, PDIP memunculkan Puti Guntur Sukarno.

Pasangan Gus Ipul-Puti pun telah mendaftar di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Timur dan menjalani tes kesehatan. Dalam Pilgub Jatim mereka akan bersaing dengan Khofifah Indar Parawansa-Emil Elistianto Dardak.

Kemunculan nama Puti disebut terkesan mendadak. Putri dari putra pertama proklamator RI Sukarno, Guntur Soekarnoputra, itu diketahui mulanya hendak maju dalam Pilgub Jabar. Puti pun sempat ikut penjaringan calon kepala daerah Jabar oleh PDIP.
Di Jatim, nama Puti muncul dan diresmikan sebagai wakil Gus Ipul pada saat terakhir, pada hari pamungkas pendaftaran calon kepala daerah dibuka di KPU Jatim, Rabu (10/1). Sebelum nama Puti muncul, sebagai pengganti Azwar Anas, PDIP sempat disebut akan memajukan di antara tiga sosok yakni Wasekjen PDIP Ahmad Basarah, Sekretaris PDIP Jatim Sri Untari, dan Bupati Ngawi Budi Sulistiono.

Pengajar Ilmu Politik dan Pemerintahan Universitas Gadjah Mada, Mada Sukmajati, menilai penunjukan Puti di menit akhir pendaftaran bakal pasangan calon ke KPU Jawa Timur sebagai bentuk 'kepanikan' PDIP sebagai partai pengusung utama bersama PKB.

Ia menilai PDIP seakan tergopoh-gopoh untuk mencari nama pengganti dan tidak memiliki skenario atau rencana cadangan ketika Azwar Anas mundur menyusul kasus viral foto tak senonoh.

"Ini tidak terskenario dengan baik karena ketika Pak Azwar mundur, gagap sekali bingung untuk menentukan nama," kata Mada kepada CNNIndonesia.com, Jumat (12/1).

Sebelum terdaftar sebagai bakal cawagub Jatim, Puti dikenal sebagai anggota Komisi X DPR RI. Ia adalah anggota dewan dari daerah pemilihan Jawa Barat.

Mada menilai, Puti sebagai cucu Presiden Indonesia pertama Sukarno belum dapat disebut sebagai pewaris ideologis sang proklamator.

"Karena Puti belum terlalu menonjol programnya apa, idenya apa, gagasannya apa terutama dalam konteks membangun Jawa Timur," ujar Puti.

Melihat pertimbangan itu, Mada menilai pemilihan Puti sebagai pendamping Gus Ipul tak lebih untuk menjaga basis pemilih tradisional dan sosiologis yang dimiliki PDIP.

"Soal [keterwakilan] perempuan juga tidak terlalu menonjol. Tapi yang paling menonjol menurut saya yang dikejar adalah simbol bahwa ini trahnya Soekarno dan PDIP dengan nasionalismenya," kata dia.

[Gambas:Video CNN]

Sulit Mengejar Pemilih Muda

Atas dasar kondisi demikian, Mada menilai PDIP akan menemui kesulitan untuk menarik pemilih muda dari generasi milenial meski Puti masih disebut mewakili kalangan muda.

"Kalau strateginya seperti ini secara tidak langsung PDIP membatasi diri hanya untuk memelihara basis pemilih tradisional saja," kata Mada.

Berdasarkan Daftar Penduduk Pemilih Potensial yang dirilis KPU, pemilih Jawa Timur mencapai 30.747.387 orang dengan komposisi yang hampir seimbang antara laki-laki dan perempuan.

Walaupun belum ada data secara spesifik terkait komposisi pemilih muda di Jawa Timur, namun kata Mada, terjadi peningkatan jumlah pemilih muda secara nasional.

"Sosiologis udah mulai berkurang, beberapa survei menunjukkan itu. Pemilih yang basisnya sosiologis, party identification itu semakin berkurang," ujarnya.
Sehingga, Mada memperkirakan jika pasangan Gus Ipul-Puti dan partai yang mendukungnya hanya mengandalkan mesin partai dan basis pemilih tradisional tanpa rasionalitas program untuk menyasar kalangan pemilih muda, maka kans kemenangan akan berkurang.

"Kita tidak tahu sejauh mana Gerindra dan PKS akan menggerakan mesin partainya. Bisa jadi tidak," katanya.

"Tapi saya kira PDIP tidak mempertimbangkan itu sebagai pertimbangan utama yang dilihat masih soal simbolik bahwa ini trahnya Soekarno apalagi Soekarno kelahiran Surabaya dan ini adalah simbol ideologi PDIP dan nasionalis," ucap Mada.

Untuk Pilgub Jatim, Gus Ipul-Puti maju dengan dukungan PDIP-PKB. Belakangan, PKS dan Gerindra pun turut masuk dalam koalisi untuk memajukan Gus Ipul-Puti sebagai kepala daerah baru Jatim. (kid)