ANALISIS

Debat Perdana Pilgub Jabar Disebut Sekadar Ajang Jual Pesona

DAL, CNN Indonesia
Rabu, 14/03/2018 06:05 WIB
Debat Perdana Pilgub Jabar Disebut Sekadar Ajang Jual Pesona
Debat Pilgub Jabar kemarin malam, Senin (13/3) disebut menjadi ajang tebar pesona hampir semua kandidat. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Debat perdana antara empat pasang calon Gubernur (Cagub) dan calon Wakil Gubernur (Cawagub) Jawa Barat lebih banyak diwarnai canda antarkandidat dan belum menyentuh substansi masalah yang dihadapi masyarakat Jabar.

Pengamat politik asal Universitas Padjadjaran (UNPAD) Muradi mengatakan empat paslon lebih menjual pesona. Namun, hal itu disebutnya wajar terjadi karena masing-masing pasangan masih tahap pemanasan pada debat perdana.

"Jadi masih pemanasan. Jual pesona iya, misalnya kayak Ridwan Kamil yang membanggakan indeks pembangunan manusia dan kebahagiaan Kota Bandung lebih tinggi dibanding Kabupaten di Bandung atau daerah Jabar lainnya," kata Muradi kepada CNNIndonesia.com, Selasa (13/3).

Muradi juga memperhatikan para kandidat cenderung bermain aman yang terlihat dari pertanyaan dan jawaban yang diucapkan. Salah satunya tercermin saat paslon nomor urut dua TB Hasanuddin-Anton Charliyan (Hasanah) beradu argumen dengan paslon nomor empat Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (Dede) soal pembangunan hunian Meikarta, Cikarang.

Saat debat, Anton menyindir Pemerintah Provinsi Jabar yang awalnya menolak mengeluarkan izin Meikarta, namun belakangan izin tersebut tetap diterbitkan oleh Pemerintah Kabupaten Bekasi.

Anton juga menyebut punya data pelanggaran Meikarta saat dirinya masih menjabat Kapolda Jabar, meski ia tak merinci pelanggaran itu.

Dari manuver para paslon itu, Muradi menilai mereka masih menyimpan kepentingan terkait Meikarta.

"Jangan-jangan semua paslon nanti mikir, karena kalau dia menang dia bisa ambil keuntungan atau mengeksploitasi pengembang Meikarta itu," kata Muradi.

Lebih dari itu, empat paslon belum menyentuh permasalahan politik Jabar, khususnya intoleransi di Jawa Barat yang angka pelanggarannya masuk kategori tertinggi di Indonesia.

Dari sekian banyak pelanggaran terkait isu toleransi, para paslon hanya membahas pengusiran jamaah di Tasikmalaya.

Adapun persoalan infrastruktur dan ekonomi, Muradi mengatakan keempat paslon sama sekali tidak membahas secara komprehensif masalah kesenjangan antara Jabar bagian utara dan selatan. Saat ini, kata Muradi, pembangunan hanya fokus di wilayah utara.

"Bandara, pelabuhan, jembatan dan jalan itu masih fokus di Jabar utara, Jabar selatan tidak dibahas," kata Muradi.

Debat Perdana Pilgub Jabar Jadi Ajang Tebar PesonaSuasana debat Pilgub Jabar, Senin (13/3). (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
Terkait isu korupsi, keempat paslon juga masih lebih mengumbar pengalaman atau pesonanya baik sebagai kepala daerah maupun pimpinan komisi di DPR. Namun sayangnya pembahasannya tidak mudah dimengerti oleh publik Jabar.

"Misalnya soal molotot.com yang diumbar paslon nomor dua. Itu saya kira tidak semua masyarakat Jabar bakal paham," kata Muradi.


Petahana Lebih Konkret

Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Djayadi Hanan menilai segi kemampuan berdebat, semua kandidat relatif seimbang.

Menurut dia, semuanya tampak piawai meski ada grogi awalnya. Semua kandidat juga tampak cukup santai menjalani debat ini, baik cagub maupun cawagubnya.Kedua, dari segi substansi atau isi semua kandidat dinilai sama-sama memberi jawaban normatif seperti komitmen anti korupsi, melayani rakyat, menjaga keamanan.

"Tapi ketika bicara soal konkret, maka jelas terlihat perbedaan antara yang pengalaman sebagai kepala daerah dan yang bukan," kata Djayadi kepada CNNIndonesia.com.

Pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum (Rindu), kata Djayadi, tampak paling siap dan sistematis serta cenderung konkret menjawab dengan selalu mengutip data baik data prestasi mereka maupun data umum.

Sementara pasangan Hasanah hanya sigap menjawab atau membahas isu-isu keamanan. Cawagubnya, Anton, masih terbata ketika mengucapkan soal-soal terkait internet.

Untuk pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik), Djayadi menyebut Sudrajat cenderung mengandalkan Syaikhu untuk menjawab soal konkret. Sementara pasangan Dede seperti pasangan Rindu, cukup banyak mengutip pencapaian keberhasilan mereka.

Djayadi juga sepakat debat perdana kemarin malam menjadi ajang tebar pesona para kandidat.

Pasangan Rindu, kata Djayadi, mencoba tebar pesona mengutip Al Quran dan hadist guna menampilkan diri sebagai orang muda yang dekat dengan ulama. Keduanya juga menunjukkan tampak akrab dengan teknologi, terutama pada sosok Ridwan Kamil.

Sementara pasangan Hasanah terlihat menonjol berkat penampilan Anton yang santai dan betul-betul bergaya Sunda.

"Hasanah jelas kompeten dalam hal bela diri, Asyik malah bernyanyi dengan lagu ciptaan sendiri. Lagu dan joget dari Rindu dan Dede juga asyik dinikmati. Tapi soal closing statement yang meyakinkan ya sementara ini pasangan Rindu," kata Djayadi. (wis/arh)