Serba-Serbi

Sawala, Cara Sosialisasi Pemilu ke Masyarakat Adat Jabar

CNN Indonesia, CNN Indonesia
Rabu, 28/03/2018 00:47 WIB
Sawala, Cara Sosialisasi Pemilu ke Masyarakat Adat Jabar
Empat pasangan calon gubernur-wagub Jawa Barat. (ANTARA FOTO/Novrian Arbi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Barat menggelar Sawala Pilgub Jabar 2018 di Bale Adat masyarakat adat Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar Kampung Sukamulya, Desa Sinar Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Sawala merupakan cara untuk menyosialisasikan tahapan Pemilu 2019 kepada masyarakat.

Sawala dalam bahasa Sunda berarti musyawarah, diskusi, atau bahasa gaulnya curhat. Filosofi Sawala menjadi landasan KPU mendatangi masyarakat dalam rangka menjelang hajat rakyat Pilgub Jabar 2018. Bukan sekadar bermusyawarah, tetapi juga menginformasikan pentingnya memilih pemimpin Jawa Barat.

Sawala Pilgub digelar akhir pekan lalu, diikuti oleh para tokoh adat di wilayah adat kasepuhan adat Ciptagelar, tokoh pemerintahan desa Sirnaresmi, KPUD Kabupaten Sukabumi, PPK Kecamatan Cisolok yang berlangsung selama kurang lebih tiga jam yang disertai dengan tampilan seni budaya Jaipong dan Debus yang para pemainnya berasal dari masyarakat adat kasepuhan Ciptagelar.

Komisioner KPU Jabar Endun Abdulhaq mengatakan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat tahun 2018 merupakan hajatan nasional yang besar karena melibatkan jumlah masyarakat sekitar 32 juta pemilih atau sekitar 35 persen suara nasional. Pilgub Jabar diikuti empat pasang calon, yakni Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum, TB Hasanuddin-Anton Charliyan, Sudrajat-Ahmad Syaikhu, dan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi.

Kata Endun, unsur masyarakat adat menjadi tujuan utama dalam Sawala pilgub tahun ini. Di wilayah Sukabumi dan sekitarnya terdapat 1,7 juta pemilih dan diantaranya merupakan masyarakat adat. Endun tak merinci jumlah pemilih dari unsur masyarakat adat.
Lebih lanjut, Endun mengatakan KPU Jabar merasa memiliki kepentingan untuk dapat mentransformasikan ilmu pengetahuan lokalitas masyarakat adat Ciptagelar yang memiliki potensi kegotongroyongan, kebersamaan, dan konsisten dalam melaksanakan adat kebiasaan.

"Apabila diterapkan dan dikaitkan dalam kegiatan Pilgub Jabar tidak akan terjadi konflik dengan masyarakat lainnya," kata Endun.

Sementara pimpinan Universitas Padjadjaran Dadang Rahmat Hidayat yang ikut dalam sosialisasi masyarakat adat berharap agar kegiatan ini dapat memberikan informasi mengenai proses pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur 2018 secara lengkap dan menghasilkan pemimpin yang memberikan manfaat, khususnya peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat adat.

Sedangkan Aki Umat, seorang tokoh Kasepuhan Ciptagelar mengimbau kepada seluruh warga masyarakat agar ikut berpartisipasi mensukseskan Pilgub 2018.

"Di masyarakat adat memiliki ilmu yang 'hebat' sehingga kasepuhan Ciptagelar selalu mendapat kunjungan dari berbagai pihak. Kami berharap agar nanti pemimpin yang terpilih lebih memperhatikan keadaan masyarakat adat, khususnya infrastruktur di wilayah masyarakat adat yang ada di Jawa Barat," ujarnya.
Sawala, Cara Sosialisasi Pemilu ke Masyarakat Adat JabarSawala Pemilu 2019. (Dokumentasi KPU Jabar)
Sawala Pilgub Jabar juga dilaksanakan di Masyarakat Adat Kasepuhan Urug, Desa Urug Kecamatan Sukajaya Kabupaten Bogor.

Tokoh pemangku adat Abah Ukat menyampaikan ucapan terima kasih yang di mana masyarakat adat kasepuhan Urug telah terpilih menjadi salah satu tuan rumah dalam penyelenggaraan Sawala Pilgub tahun ini.

"Kami berharap ke depannya dalam proses pilgub di Jawa Barat 2018 ini hendaknya seluruh warga masyarakat adat Urug dapat memilih sesuai dengan pilihan berdasarkan hasil informasi Sawala Pilgub Jabar ini yang dilaksanakan di Bumi Ageung Kasepuhan Urug," kata dia.

Kegiatan Sawala Pilgub Jabar 2018 yang dilakukan oleh KPU Jabar merupakan suatu bentuk komitmen pemerintah untuk melibatkan seluruh unsur masyarakat yang memiliki hak pilih tanpa ada diskriminasi sehingga akan menghasilkan tingkat partisipasi yang tinggi.

Di sisi lain, Pilgub Jabar 2018 yang mengusung tema sebagai wahana wisata edukasi politik yang dapat menggerakkan roda perekonomian masyarakat yang diintegrasikan dengan perkembangan masyarakat 'zaman now' yang kritis terhadap berbagai fenomena sosial kemasyarakatan serta sistem demokrasi yang didukung oleh proses literasi informasi yang semakin profesional di media mainstream maupun media sosial.
(hyg/ugo)