Garam di Tengah Debat Kandidat Pilgub Sulsel

Dika Dania Kardi, CNN Indonesia
Kamis, 29/03/2018 22:20 WIB
Garam di Tengah Debat Kandidat Pilgub Sulsel
Hampir seluruh kabupaten di Sulawesi Selatan memiliki pesisir sehingga persoalan produksi garam pun mencuat jadi salah satu pembahasan dalam debat kandidat Pilkada Sulsel di Makassar, Rabu (28/3) malam. (CNN Indonesia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Persoalan garam menjadi salah satu pembahasan dalam debat kandidat Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan di Makassar, Rabu (28/3) malam.

Dalam sesi tanya jawab, Calon Wakil Gubernur nomor urut 4, Andi Mudzakkar bertanya kepada Calon Wakil Gubernur nomor urut 3 Andi Sudirman Sulaiman soal potensi garam di Sulsel dan kaitannya dengan langkah pemerintah pusat mengimpor garam dari luar negeri.

"Bila melihat potensi garam di Sulsel sangat besar, namun diperlukan pendekatan teknologi dalam pengelolaan garam sehingga harganya tidak anjlok," jawab Sulaiman dalam debat itu seperti dikutip dari Antara.
Pria yang berpasangan dengan calon gubernur Nurdin Abdullah itu menyatakan garam seharusnya tidak perlu diimpor karena potensi di Indonesia untuk mengelola itu sangat besar. Apalagi, tegasnya, di wilayah Sulsel.

"Garam sudah semestinya kita ekspor, hanya saja belum memenuhi standar sehingga diperlukan perbaikan-perbaikan dalam mengelolanya," papar adik Menteri Pertanian Amran Sulaiman itu.

Sedangkan Andi Mudzakkar yang akrab disapa Cakka menanggapinya dengan menyorot dua kabupaten penghasil garam di Sulsel yakni Kabupaten Jeneponto dan Pangkep. Cakka pun melihat seharusnya bukan hanya dua daerah itu saja sebagai penghasil garam karena letak geografis Sulsel yang sebagian besar wilayahnya di kelilingi laut.

"Seharusnya semua daerah yang mempunyai laut potensi pengolahan garam itu ada, hanya saja belum dikelola dengan baik. Kami dalam melihat itu salah satu solusinya adalah membangun rumah prisma dalam mengelola produksi garam," ujar Cakka.
Garam di Tengah Debat Kandidat Pilgub Sulsel
Mantan Bupati Luwu ini menjelaskan, rata-rata kabupaten di Sulsel punya pesisir. Atas dasar itu pula ia mendorong program rumah produksi yakni dengan membangun rumah prisma agar harga garam lebih tinggi dan hasilnya lebih maksimal.

"Selama ini produksi garam telah bercampur dengan tanah dalam pengolahannya, sehingga kualitasnya kurang baik. Bila dikelola dengan rumah prisma maka hasil lebih bagus dan harga juga tinggi. Bila ini diwujudkan maka tingkat kemiskinan di daerah akan berkurang," kata Cakka yang berpasangan dengan calon gubernur Ichsan Yasin Limpo dalam Pilkada Sulsel ini.

Debat pertama antarkandidat Pilkada Sulsesl ini diikuti empat pasang calon peserta: Nurdin Halid-Aziz Qahhar Mudzakkar (nomor urut 1), Agus Arifin Nu'mang-Tanri Bali Lamo (nomor urut 2), Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman (nomor urut 3), dan Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar (nomor urut 4). 

Debat yang mengangkat tema 'Pembangunan Berwawasan Lingkungan yang Berorientasi pada Pemerataan Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat' itu berlangsung dalam durasi dua jam.
[Gambas:Video CNN]

Pertanian dan Kemiskinan di Desa

Dalam debat ini seluruh kandidat hampir senada menawarkan upaya perbaikan pertanian serta penurunan angka kemiskinan di tingkat desa.

"Satu cara menggerakkan ekonomi rakyat melalui BUMDes dan Koperasi, ini merupakan wadah agar tidak lagi membuat kesalahan yang sama harga padi turun. BUMDes dan Koperasi salah satu upaya pengelolaan ekonomi mengangkat harkat dan martabat dari pertanian," kata Nurdin Halid dalam debat.

Dia mengatakan bahwa kebijakan yang harus dilaksanakan memberikan alokasi ekonomi yang adil kepada masyarakat yang hidup di kampung dan desa karena 90 persen masyaraka berprofesi sebagai petani, peternak, dan berkebun. Untuk itu sektor pertanian harus didorong untuk lebih baik.

"Saya akan memberikan kesempatan berusaha dengan memberikan alokasi kebijakan yaitu menciptakan wirausaha dengan memberikan modal tanpa bunga dan tanpa jaminan tentunya dengan aturan yang ada," kata Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia itu.

Sementara Ichsan Yasin Limpo mengemukakan program pengembangan rumah produktif yang akan dibangun di 304 kecamatan di seluruh Sulsel. Rumah produktif, kata dia, adalah industri kecerdasan mengasah otak sekaligus pelayanan kepada rakyat.

"Kenapa ada kecerdasan otak, karena di dalam rumah produktif ini di sinilah akan dikembangkan secara profesional baik dibidang produksi, proses penguasaan manajemen dan keuangan ada permodalan, pengrusan izin dengan pelayanannya didekatkan dengan kecamatan, ini semua bagian dari rumah produksi," paparnya.
Sedangkan Calon Gubernur Nurdin Abdullah menyinggung soal potensi pertanian di Sulsel sangat besar. Sayangnya, sambung dia, pengelolaanya dinilai tidak maksimal dari mulai penyediaan bibit, pupuk, hingga lahan pertanian yang perlu diperbaiki guna meningkatkan hasil lebih besar.

"Pengalaman saya di Bantaeng telah melakukan itu dengan perbaikan dari sisi pertanian hingga perkebunan. Selain itu dari segi infrastruktur harus didukung investasi guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Diperlukan pemerintahan yang bersih dengan menghadirkan orang bersih," ucapnya.

Calon Gubernur Agus Arifin Num'ang pada kesempatan itu juga menyampaikan program 'Labuba Malabo' sebagai bagian dari pengembangan perekonomian di Sulsel. 

Mantan Wakil Gubernur Sulsel ini juga menyebut selama 10 tahun menjabat mampu menaikkan pertumbuhan ekonomi hingga 7,6 persen di atas nasional.

"Terjadi pula peningkatan ekonomi, indeks pembangunan naik hingga menekan angka kemiskinan. Salah satu agenda strategis selain perbaikan pertanian juga akan dikembangkan lima kawasan, tiga di pegunugan, dua pesisir, dan pulau yang kami namakan program Labuba Malabo," ucapnya dalam debat itu. (Antara/kid)