Menyoal Bahasan Citarum dalam Debat Kedua Pilgub Jabar

Tiara Sutari, CNN Indonesia
Rabu, 16/05/2018 00:03 WIB
Menyoal Bahasan Citarum dalam Debat Kedua Pilgub Jabar
Perdebatan soal pembersihan sungai Citarum menjadi salah satu tema panas dalam debat kedua Pilgub Jabar 2018 yang berlangsung di Depok, Senin (14/5). (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)
Jakarta, CNN Indonesia -- Debat kedua Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Barat (Jabar) yang berlangsung di Balairung Universitas Indonesia, Depok, Senin (14/5) malam dinilai lebih dinamis dibandingkan debat sebelumnya.

Semalam keempat pasangan calon (paslon) dinilai lebih aktif membahas persoalan yang disodorkan dalam debat yang bertemakan lingkungan hidup, sumber daya alam, energi dan pangan, pertanian, kelautan dan kehutanan, serta pertambangan.


Salah satu hal yang memanas terkait tema tersebut adalah pembahasan mengenai sungai Citarum. Calon Gubernur nomor urut 4, Deddy Mizwar, yang juga menjabat Wakil Gubernur Jabar paling 'diserang' terkait sungai terpanjang di wilayah provinsi tersebut.



"Debat semalam dinamis. Ada peningkatan dari debat sebelumnya, saat bahas Sungai Citarum paslon urut satu dan paslon urut empat juga sangat atraktif," kata Idil kepada CNNIndonesia.com melalui telepon, Selasa (15/5).


Namun Idil mengkritisi sikap Deddy selaku Calon Gubernur dari pasangan nomor urut empat. Deddy kata Idil tak tepat manakala dirinya menjawab kritikan Emil soal Citarum yang hingga kini tak bisa diminum. 

"Tak pada tempatnya, menurut saya jawaban Deddy kurang tepat manakala disinggung oleh Emil," kata Idil.

Emil memang sempat menyinggung program Citarum Bestari. Program tersebut merupakan gagasan dari Gubernur Ahmad Heryawan dan Deddy Mizwar sebagai Wakilnya. Dalam program itu Aher-Deddy menjanjikan Sungai Citarum bersih dan dapat diminum pada tahun 2018.

"Katanya 2018 bisa diminum, tapi kok bisa sampai sekarang presiden ambil alih manajemen pengelolaan Citarum," sindir Emil kepada Deddy.


Namun, hingga kini Citarum tetap menjadi sungai terkotor di dunia meski dana APBD Provinsi Jawa Barat sebesar Rp120 miliar telah diserap ke dalam proyek tersebut.

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) pun memerintahkan Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan untuk menjadi 'panglima' membersihkan sungai yang mengalir dari mata air di Gunung Wayang, Kabupaten Bandung tersebut. Penetapan atas Luhut sebagai Ketua Pengarah Tim Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2018.

Saat disinggung mengenai Citarum Bestari itu, Deddy menyatakan Sungai Citarum bukan wewenang Pemprov Jabar, melainkan wewenang pemerintah pusat. Dia juga menuding Emil kurang pengetahuan terkait ilmu pemerintahan. 


Terkait hal ini kata Idil, semestinya Deddy sadar bahwa Gubernur tugasnya sendiri merupakan perpanjangan dari pemerintah pusat, dan cukup disayangkan ketika Deddy memilih gestur seolah 'walk out' saat berdebat dengan Emil.

"Ya meski walk out itu tidak serius tapi kesannya dia sangat arogan," nilai Idil.


Saling adu pendapat soal upaya membersihkan Citarum pun terjadi antara Deddy dengan calon gubernur nomor urut 2 TB Hasanuddin. Serupa Emil, Hasanuddin pun menyindir janji Aher-Deddy soal air Citarum bisa diminum.

"Iya minumnya sambil bawa air mineral," kata Hasanuddin.

Namun, Deddy tetap mengklaim bahwa air sungai Citarum bisa diminum.

"Di Cisanti mata airnya bisa diminum," kata Deddy.

Lalu, calon wakil gubernur yang berpasangan dengan Deddy, Dedi Mulyadi, menambahkan rencana mereka untuk membenahi Citarum. Persoalan Citarum menurut Dedi berasal dari hulu di mana terjadi perambahan hutan, dan beralih menjadi kebun sayur. 

"Pertama masyarakat di sekitar hutan dikasih pekerjaan baru, harian lepas minimal Rp1,5 juta per bulan dan bisa dengan penanaman kopi satu juta pohon kopi nilainya Rp14 miliar per tahun," kata pria yang terkini menjabat Bupati Purwakarta tersebut. (kid/kid)