Pilkada Berhawa Pilpres, Tjahjo Yakin Tak Segaduh Pilgub DKI

Bimo Wiwoho, CNN Indonesia
Kamis, 24/05/2018 19:48 WIB
Pilkada Berhawa Pilpres, Tjahjo Yakin Tak Segaduh Pilgub DKI
Anies-Sandi jadi pemenang Pilkada DKI Jakarta 2017. (CNN Indonesia/Abi Sarwanto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menilai pilkada serentak yang dihelat di 171 daerah pada tahun ini tidak akan gaduh seperti Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu. Pasalnya, pemilihan kepala daerah di tahun ini berdekatan dengan pilpres 2019.

"Suasana pilkada tahun ini tidak seperti Pilkada DKI Jakarta yang begitu menonjol di opini, tapi justru yang menonjol hasil survei (capres-cawapres), siapa koalisi siapa," katanya di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (24/5).


Tjahjo mengatakan bahwa sejauh ini lembaga-lembaga survei begitu aktif merilis hasil penelitian mengenai pilpres. Misalnya, siapa tokoh yang paling potensial menjadi capres atau cawapres atau capres dengan elektabilitaa tertinggi dan terendah.

Selain itu, Tjahjo juga mengatakan lembaga-lembaga survei begitu aktif merilis hasil penelitian mengenai prediksi partai politik pemenang pemilu legislatif 2019.
Tjahjo pastikan pilkada serentak 2018 tak segaduh pilgub DKI 2017. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho)

Hasil-hasil survei tersebut lalu diberitakan oleh media massa dengan tidak kalah masif. Walhasil, masyarakat menjadi tersuguhi informasi berbau pemilu dan pilpres 2019. Implikasinya, rivalitas pada pilkada tidak terlalu tinggi karena fokus masyarakat terpecah akibat banyaknya informasi seputar pilpres.

"Jadi wajar kalau beraroma, berhawa pilpres," ucap Tjahjo.

Berdasarkan asumsinya itu, Tjahjo mengatakan kondisi Indonesia cenderung aman saat pemungutan suara pilkada serentak dilaksanakan pada 27 Juni mendatang.


Meski begitu, bukan berarti mengabaikan kewaspadaan. Dia mengatakan setiap pemda dan aparat keamanan pun tetap harus waspada terhadap segala potensi konflik.

Pada intinya, Tjahjo menilai saat ini hanya tinggal dua aspek yang perlu diperhatikan demi kelancaran pelaksanaan pilkada. Dua aspek yan dimaksud yakni praktik politik uang dan ujaran kebencian.

"Tinggal kita melawan politik uang dan kampanye yang berujar kebencian, apalagi yang mengandung fitnah. Itu saja," ucap Tjahjo.

(DAL)