Membidik Enam Kantung Besar Suara di Pilkada Jabar

Tim CNN Indonesia, CNN Indonesia
Rabu, 27/06/2018 08:27 WIB
Membidik Enam Kantung Besar Suara di Pilkada Jabar
Empat pasang calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat. (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)
Jakarta, CNN Indonesia -- Warga Jawa Barat mencari pemimpin baru hari ini lewat gelaran pemilihan gubernur (pilgub) Jabar 2018. Empat kandidat bersaing merebut suara di provinsi dengan pemilih terbanyak di Indonesia, mencapai 31.730.042 orang.

Ketua KPU Provinsi Jawa Barat Yayat Hidayat mengatakan tahun ini pilgub Jabar akan digelar di 74.954 Tempat Pemungutan Suara.

"Menyiapkan 74.954 TPS di 27 kabupaten/kota," kata Yayat kepada CNNIndonesia.com, Selasa (26/6).

Ada empat pasang calon yang akan memperebutkan suara warga Jabar. Yakni pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul, Tb Hasanuddin- Anton Charliyan, Sudrajat-Ahmad Syaikhu, serta Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi.

Dalam kontestasi ini, setiap pasangan memiliki visi misi guna menarik perhatian warga Jabar.

Pasangan nomor urut satu yang dikenal dengan sebutan pasangan Rindu ini memiliki visi menghadirkan Jabar juara lahir batin yang memiliki manusia beriman, bahagia dan berkualitas, membangun ekonomi yang berdaya saing dan berkelanjutan.

Sementara pasangan nomor urut 2 yakni pasangan Hasannah memiliki visi yakni terwujudnya rakyat Jabar makmur berbasiskan sumber daya alam dan budaya.

Pasangan Asyik atau pasangan nomor urut 3, memiliki sejumlah misi untuk membangun manusia Jabar yang agamis, sehat, dan unggul, meningkatkan kesejahteraan, dan mengembangkan infrastruktur modern.

Pasangan nomor urut 4 atau pasangan 2DM memiliki visi terwujudnya Jabar yang adil sejahtera dan berkarakter tahun 2023.
Warga Jabar Pilih Gubernur di 74.954 TPS (EMBG)
Sementara itu untuk jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) di Pilgub Jabar ini mencapai 31.730.042, yang terdiri dari 15.945.499 laki-laki dan 15.784.543 perempuan.

Enam Kantung Suara

Pengamat politik Universitas Padjajaran, Muradi menyebutkan secara umum ada enam wilayah basis suara pemilih di Jawa Barat.

Wilayah pertama yaitu Bandung Raya meliputi Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat dan Sumedang. Kedua, Priangan Timur meliputi Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Pangandaran dan Banjar.

Wilayah ketiga, Priangan Barat meliputi Cianjur, Sukabumi, Kabupaten Bogor, dan Kota Bogor. Keempat, Pantura meliputi Subang, Purwakarta, Karawang dan Kabupaten Bekasi.


Wilayah selanjutnya yaitu Cirebon Raya meliputi Cirebon, Majalengka, Kuningan, dan Indramayu. Terakhir adalah wilayah Suburban DKI Jakarta meliputi Depok dan Kota Bekasi.

Warga Jabar Pilih Gubernur di 74.954 TPS (EMBG)Empat pasang cagub dan cawagub Jawa Barat usai tes kesehatan. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
Masing-masing wilayah itu memiliki karakter masyarakat yang berbeda. Misalnya, Priangan Timur, sebagian Priangan Barat dan Cirebon Raya termasuk wilayah masyarakat pedesaan tradisional dengan tradisi etnik Sunda yang masih kental.

Sementara Bandung Raya, Suburban DKI Jakarta, dan sebagian Cirebon Raya dan Kota Bogor dikategorikan sebagai masyarakat perkotaan yang telah melek teknologi dan politik.

Sedangkan wilayah Pantura memiliki ciri khas masyarakat nelayan dengan kultur pesisir dan kelompok buruh.

Meski karakteristik berbeda-beda, masyarakat Jabar dinilai sangat dinamis dan cair dalam memilih pemimpin.

Muradi mengatakan jika ingin memenangkan pilgub Jabar, para kandidat harus mampu menguasai kantong suara dengan populasi terbesar, yaitu di Priangan Barat, Pantura dan wilayah urban seperti Bandung Raya, Depok dan Kota Bekasi.

"Di Jawa Barat ada empat wilayah yang penduduknya banyak, lebih dari 55 persen suara ada di situ. Kalau bisa menguasai di sana bisa dipastikan menang," ujar Muradi kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Debat Tanpa Substansi

Debat kandidat pilgub Jabar diadakan tiga kali sebelum masuk masa tenang pilkada. Tak banyak substansi gagasan yang disampaikan para kandidat selama debat tersebut.

Debat perdana diwarnai penampilan kocak dan menghibur antarkandidat tanpa menyentuh substansi masalah yang dihadapi masyarakat Jabar. Mereka dinilai lebih banyak menjual pesona dan cenderung mencari aman dalam menjawab pertanyaan.

Misalnya terkait pembangunan hunian Meikarta, Cikarang. Muradi menilai para kandidat masih menyimpan kepentingan untuk mengambil keuntungan dari pengembang Meikarta jika menang pilgub.
Membidik Enam Kantung Besar Suara di Pilkada Jabar
Selain itu, keempat paslon juga belum menyentuh persoalan intoleransi di Jabar yang angka pelanggarannya masuk kategori tertinggi di Indonesia.

Terkait masalah infrastruktur dan ekonomi, mereka dinilai tidak membahas persoalan kesenjangan antara Jabar bagian utara dan selatan. Pembangunan bandara, pelabuhan, jembatan dan jalan hanya fokus di wilayah utara.

Berselang dua bulan, debat kedua pun digelar. Alih-alih saling uji program kerja, para kandidat justru saling serang riwayat kepemimpinan masing-masing.

Berbeda dengan debat sebelumnya yang penuh canda, pada kesempatan kedua tensi debat mulai memanas. Puncaknya ketika pasangan Sudrajat-Syaikhu membentangkan kaos putih bertuliskan "2018 Asyik Menang, 2019 Ganti Presiden" di pengujung acara.

Warga Jabar Pilih Gubernur di 74.954 TPS (EMBG)Polisi mengamankan keributan antarpenonton pada debat kedua pilgub Jabar. (CNN Indonesia/Dhio Faiz)
Aksi tersebut menyulut kericuhan para penonton yang hadir di lokasi debat. Kandidat yang diusung PDIP, Tb. Hasanudin-Anton berusaha menenangkan pendukungnya yang marah. Bahkan pasangan Deddy-Dedi sempat menolak memberikan pernyataan penutup.

Jelang debat ketiga, cagub Deddy Mizwar sempat menolak hadir jika kepolisian tidak menjamin acara berlangsung aman. Dia bahkan meminta KPU Jabar membatalkan pelaksanaan debat terakhir karena khawatir ricuh.

Debat tetap digelar, namun KPU Jabar meniadakan sesi tanya jawab antarpasangan calon untuk menghindari konflik dan kegaduhan.

Pada debat pamungkas itu, para kandidat dinilai masih normatif menanggapi persoalan terkait tema yang diusung, tanpa menjelaskan solusi yang bisa berdampak signifikan.

Padahal menurut pengamat politik Universitas Parahyanan (Unpar) Bandung, Asep Warlan Yusuf, argumentasi para kandidat pada debat terakhir itu sangat penting untuk menarik suara. Sebab ada sekitar 30 persen warga Jabar yang belum menentukan pilihan.


Sejumlah pasangan calon diagendakan akan menggunakan hak pilihnya di sejumlah tempat.

Ridwan Kamil direncanakan akan memilih di TPS 21 yang berada di Kelurahan Cigadung, Kecamatan Cibeunying Kaler. Sementara pasangannya, Uu akan menggunakan hak pilih di TPS 03 yang berada di Kelurahan Kalimanggis, Kecamatan Manonjaya.

Pasangan nomor urut 2, calon gubernur (cagub) TB Hasanuddin tidak bisa menggunakan hak pilihnya lantaran masih memiliki KTP Jakarta. Sedangkan pasangannya Anton Charliyan akan memilih di TPS 02 Kelurahan Panglayungan, Kecamatan Cipedes,

Untuk pasangan nomor urut 3, cagub Sudrajat akan mencoblos di TPS 27 yang terletak di Jalan Cikeundi, Kelurahan Hegarmanah, Kecamatan Cidadap. Sedangkan cawagub Ahmad Syaikhu akan memilih di TPS 76 yang terletak di Jalan Antara, Kelurahan Jatimakmur, Kecamatan Pondok Gede.

Pasangan nomor urut 4, Deddy Mizwar akan menggunakan hak pilihnya di TPS 61 yang berada di Perumahan Jatiwaringin Asri, Kecamatan Pondok Gede. Sementara pasangannya, Dedi Mulyadi akan memilih di TPS 4 di Kampung Krajan, Desa Sawah Kulon, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Purwakarta.

Guna mengamankan jalannya pemungutan suara di Pilgub Jabar, personel gabungan Polri dan TNI pun diterjunkan.

Kapolda Jawa Barat Irjen Agung Budi Maryoto mengatakan telah menyiagakan puluhan ribu personel untuk mengamankan Pilgun Jabar tersebut.

"Polri 21.545 dan TNI 3000 melekat ke polri," kata Agung kepada CNNIndonesia.com, Selasa. (pmg/gil)