Kiai 'Luar' dan 'Arek' di Balik Keunggulan Khofifah

Feri Agus, CNN Indonesia
Sabtu, 30/06/2018 09:47 WIB
Kiai 'Luar' dan 'Arek' di Balik Keunggulan Khofifah
Keberhasilan Khofifah meyakinkan pemuka agama yang tidak masuk kepengurusan NU dan memikat pemilih rasional membuat dia unggul dalam Pilgub Jatim 2018. (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa-Emil Elistianto Dardak unggul dari pasangan Saifullah Yusuf (Gus Ipul)-Puti Guntur Soekarno berdasarkan hitung cepat beberapa lembaga survei.

Berdasarkan hitung cepat Komisi Pemilihan Umum (KPU) dari data C1, Khofifah-Emil memperoleh suara 53,74 persen, sementara Gus Ipul-Puti sebesar 46,26 persen. Perbedaan suara kedua kompetitor itu mencapai tujuh persen.

Bila dilihat suara per wilayah di Jawa Timur, Khofifah-Emil setidaknya unggul di 27 kabupaten/kota, sedangkan Gus Ipul-Puti hanya di 11 kabupaten/kota.

Wilayah-wilayah yang memberikan suara cukup signifikan bagi Ketua PP Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) itu di antaranya, Kabupaten Pacitan, Pamekasan, Ponorogo, Trenggalek, Tuban, Probolinggo, Nganjuk, Jember hingga Mojokerto.


Pengamat politik dari Universitas Jember, Eko Ernada menilai keunggulan Khofifah-Emil dari Gus Ipul-Puti tak terlepas oleh dukungan para kiai di luar kepengurusan NU. Eko menyebut atas wejangan kiai-kiai itulah para pemilih lantas mengarahkan suara kepada Khofifah-Emil.

"Menurut saya, itu adalah dukungan kiai, itu yang utama. Kiai di luar struktur NU ya, karena NU kan mendukung (Gus Ipul-Puti)," kata Eko saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Jumat (29/6).

Baik Khofifah maupun Gus Ipul memang sama-sama besar di NU. Khofifah aktif dalam organisasi PP Muslimat, sementara Gus Ipul pernah memimpin GP Ansor dan menjadi pengurus PBNU. Kini, Gus Ipul merupakan kader Partai Kebangkitan Bangsa.

Eko mengatakan kiprah Khofifah di panggung politik Jawa Timur sebenarnya masih bisa terhambat. Sebab sejumlah kiai mempersoalkan masalah gender dalam membicarakan kepemimpinan, termasuk dalam pesta demokrasi lima tahunan ini.

Meski begitu, kata Eko, kiai-kiai di luar struktur NU menilai Khofifah meski perempuan dianggap mempunyai kemampuan dan prestasi.

"Di luar struktur NU itu melihat potensi Khofifah itu (secara) meritokrasi, bukan lagi pada perbedaan gender," ujarnya.


Selain peran kiai di luar struktur NU, pemilih rasional di Jawa Timur juga cukup membantu perolehan suara Khofifah-Emil dan menggusur perolehan petahana. Menurut Eko, berdasarkan hasil survei, jumlah pemilih rasional mencapai 53 persen, lebih tinggi dibanding pemilih rasional di Jakarta.

Sehingga, kata Eko isu-isu yang berembus menjelang pencoblosan, seperti fatwa fardu ain (wajib) memilih pasangan Gus Ipul-Puti itu tak mempengaruhi masyarakat Jawa Timur.

"Karena pemilihnya itu lebih melihat meritokrasi tadi, karena tren pak kiai saya kira," tuturnya.

Menurut Eko, kelompok pemilihan rasional yang paling banyak tersebar di daerah Arek, yakni Surabaya hingga Malang. Eko menyebut dengan memanfaatkan hasil survei dari sejumlah lembaga, tim Khofifah-Emil memetakan wilayah-wilayah yang bisa mendulang suara. Arek adalah kalangan pemilih rasional, dan Mataraman adalah kelompok nasionalis. 

"Jadi ada Arek, ada Pedalungan, Mataraman, dan seterusnya. Pemilih terbesar kan di Mataraman dan Arek," kata dia.


Keunggulan sementara Khofifah-Emil dari Gus Ipul-Puti diprediksi akan sesuai dengan hasil hitung resmi yang dilakukan KPU Jawa Timur. Rekapitulasi suara di tingkat kecamatan sudah dimulai sejak 28 Juni sampai 3 Juli, tingkat kabupaten/kota dari 4-6 Juli, dan tingkat provinsi dari 7-9 Juli 2018.

Bila Khofifah-Emil menang, mantan Menteri Sosial itu bakal mencetak sejarah sebagai gubernur Jawa Timur perempuan pertama. Perjuangan Khofifah pun mencapai klimaks, setelah dalam dua Pilgub sebelumnya, yakni pada 2008 dan 2013, ia selalu kalah dari Sukarwo-Gus Ipul. (ayp/ayp)