Meraup Suara Pilpres 2019 Lewat Kemasan Politik Identitas

DZA, CNN Indonesia
Selasa, 10/07/2018 09:23 WIB
Meraup Suara Pilpres 2019 Lewat Kemasan Politik Identitas
Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Lucky R.)
Jakarta, CNN Indonesia -- Politik identitas dinilai bakal mempengaruhi suara pemilih di pilpres 2019. Kontestasi politik hanya dikemas berdasarkan kesamaan latar belakang daerah, ras, etnis, maupun agama tanpa beradu gagasan.

Rendahnya wawasan masyarakat dianggap jadi peluang bagi para kandidat untuk memainkan politik identitas ketika pemilu. Pada pilkada serentak 2018 lalu, politik identitas dinilai berhasil digunakan untuk menggiring suara.

"Itu (politik identitas) pasti digunakan untuk mempermudah orang memahami yang akan dipilih, dalam rebranding pun ini tetap akan digunakan," kata pengamat politik Universitas Paramadina Hendri Satrio kepada oleh CNNIndonesia.com, Senin (9/7).


Hendri menilai penggunaan politik identitas masih wajar karena mayoritas pemilih di Indonesia belum rasional. Namun Hendri menyayangkan hal itu diperuncing dengan isu sensitif yang berkaitan dengan agama.

"Pemilih masih tradisional, masih mengikuti identitas dari calon pemimpin dan itu wajar, kok. Itu (politik identitas) pasti akan dipakai, namun jangan digunakan pembeda. Jangan jadikan prasyarat untuk memilih," kata Hendri.

Ia mengatakan kandidat capres dan cawapres 2019 harus mulai membangun adu gagasan agar tak melulu menggunakan politik identitas saat pemilu.

Sementara pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Indria Samego mengatakan politik identitas tidak akan membawa pengaruh dalam pemilu mendatang.


Menurutnya, peran media massa telah memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk lebih cermat dalam memilih calon pemimpin. Meskipun memiliki latar belakang yang sama dengan calon pemimpinnya, namun hal itu itu tidak menjadi prasayarat memilih.

"Saya kira jauh lebih berkurang daripada masa lalu. Karena peran media jarang mem-blow up (politik identitas), jadi hal-hal yang seolah-olah mendramatisir itu mulai berkurang," kata Indria saat dihubungi oleh CNNIndonesia.com.

Meski demikian, Indria berpendapat politik identitas masih bisa mempengaruhi masyarakat jika kandidat melibatkan tokoh agama untuk meraih suara. Pesan para agamawan memiliki peran yang cukup besar.

Namun Indria menyayangkan langkah tersebut karena tokoh agama seharusnya menjadi benteng yang dapat menetralisasi kegaduhan di masyarakat karena politik identitas.

"Tokoh agama itu seharusnya menjadi benteng yang bisa menetralisir cemooh publik," kata Indria.

(pmg/gil)