“Airlangga Hartarto kader muda penuh dedikasi, tidak mau ikut cara-cara inkonstitusional. Airlangga bahkan minta dipertimbangkan sebagai kandidat ketua umum lewat Munas. Ini cara yang benar dan bermartabat. Perlu diapresiasi sedalam-dalamnya,” kata Ical ketika memberikan pidato sambutannya di Aula Hotel Westin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Muladi sebelumnya ditunjuk Agung Laksono menjadi Ketua Panitia Penyelenggara Muans Tandingan. Namun ia mengundurkan diri setelah mengikuti rapat dengan kubu Ical di Bakrie Tower, Jakarta, pekan lalu.
Secara terpisah, Agung Laksono menuding sejak awal Munas sudah tak demokratis dan hanya diskenariokan untuk memenangkan Ical kembali sebagai ketua umum Golkar. Oleh sebab itu ia akan tetap menggelar munas tandingan pada Januari 2015.
Sementara Airlangga yang dipuji Ical, justru mengkritik Munas. Dia menyebut pendukung Ical dan non-Ical mendapat perlakuan berbeda. Airlangga misalnya belum menerima Tata Tertib, padahal kader lain sudah mendapatkannya.
Airlangga juga mengatakan janggal bahwa posisi pengurus Dewan Pimpinan Pusat Golkar yang seharusnya menjadi peserta Munas justru diturunkan menjadi peninjau atau panitia. “Saya dijadikan panitia, dan sampai sekarang belum menerima Tatib. Partai sebesar ini, sampai hari H kenapa tak ada kejelasan,” kata dia.
Anggota DPR itu lalu menyindir Ical. Jika pemilihan ketua umum Golkar dalam Munas diibaratkan pertandingan sepakbola, kata dia, maka Ical adalah pemain, penonton, wasit, sekaligus hakim garis.