Golkar, menurut pakar politik Populi Center Nico Harjanto, sudah amat terbiasa dengan konflik. Faktanya, Golkar melahirkan empat anak, yakni partai-partai baru, sejak 1999. Keempat anak Golkar itu ialah Partai Musawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR), Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB), Hanura, Gerindra, Nasdem.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Partai MKGR berdiri pada 27 Mei 1998, didirikan oleh Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia era orde baru, Mien Sugandhi. Namun partai ini sekarang tak pernah terdengar lagi. Partai MKGR terakhir ikut pemilu pada 1999, yakni pemilu pertama era reformasi.
Partai ketiga yang menjadi anak Golkar ialah PKPB yang berdiri pada 9 September 2002. PKPB pernah mendeklarasikan putri Presiden Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana atau Mbak Tutut, sebagai calon presiden.
Partai keempat dan kelima yang lahir dari Golkar yaitu Hanura dan Gerindra. Keduanya lahir pasca konvensi calon presiden Golkar pada 2004. Saat itu konvensi –yang juga diikuti Prabowo– dimenangkan oleh Wiranto dan ia maju sebagai calon presiden dari Golkar pada Pemilu 2004. Ironisnya, Wiranto harus kalah dari sesame kader Golkar, Jusuf Kalla yang saat itu maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono.
Wiranto kemudian keluar dari Golkar dan mendirikan Hanura pada 21 Desember 2006, sedangkan Prabowo mendirikan Gerindra pada 6 Februari 2008. Kedua partai yang menjadi kendaraan politik Wiranto dan Prabowo itu lolos menjadi peserta Pemilu 2009, bahkan berhasil lolos ke parlemen. Saat ini Wiranto dan Prabowo menjadi ketua umum di partai yang mereka dirikan itu.
Terakhir, partai keenam yang menjadi anak Golkar ialah NasDem. Pendiri NasDem, Surya Paloh, juga merupakan peserta konvensi Golkar 2004 bersama Wiranto, Prabowo, Aburizal Bakrie (Ical), dan Akbar Tandjung. Paloh mundur dari Golkar dan mendirikan NasDem pada 26 Juli 2011. (agk)