Dari keempat nama tersebut, hanya Puan Maharani yang berasal dari trah Soekarno, sedangkan tiga lainnya bukan anak-cucu biologis sang proklamator. Ini seiring dengan makin banyaknya kader PDIP yang berpendapat partai mereka tak lagi harus dipimpin oleh dinasti Soekarno. Dari 467 DPC yang disensus CSIS, 51,2 persen pengurus PDIP memang berpendapat partai mereka masih harus dipimpin trah Soekarno, namun 48,2 persen lainnya berpikir sebaliknya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada orang yang secara fisik tak bisa memimpin, tapi kami lihat Bu Ketua Umum bisa memimpin PDIP dengan solid," ujar Junimart.
Pemilihan Ketua Umum PDIP saat ini, ujar Junimart, masih lekat dengan faktor sejarah. Trah Soekarno dianggap memiliki sejarah dan karisma yang dibutuhkan partai banteng. "Sekali lagi, ini bukan masalah figur yang muncul seketika. (Kepemimpinan) ini harus dibawa sejak lahir. Oleh sebab itu trah Soekarno menjadi acuan pada pemilihan ketua umum sekarang," kata dia.
Walau demikian, bukan berarti nama-nama seperti Jokowi, Pramono Anung, dan Ganjar Pranowo tak bisa jadi pemimpin PDIP. Hanya saja, faktor sejarah dan karisma membuat mereka tak bisa menjadi pemimpin PDIP untuk saat ini.
Rapat Kerja Nasional PDIP September 2014 di Semarang menyepakati Megawati Soekarnoputri akan kembali dikukuhkan sebagai Ketua Umum PDIP pada Kongres IV PDIP di Sanur, Bali, 8-12 April. Megawati akan tetap memimpin partai hingga 2020. (Baca Maruarar Sirait: Regenerasi Ketua Umum PDIP pada 2020) (pit/agk)