Menurut Prabowo, dalam demokrasi dibutuhkan saling pengertian. Pertarungan perebutan kekuasaan diharapkan bukan jadi ajang permusuhan, namun hanya sebuah seleksi pemimpin yang terbaik bagi bangsa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Upaya adu domba seperti ini, kata Prabowo sama seperti politik devide et impera jaman penjajahan. "Kalau dulu sultan lawan sultan, sekarang ketua umum dilawan anak buah yang dibesarkannya sendiri," katanya.
Demokrasi, lanjut Prabowo tidak akan diserahkan pada preman-preman bayaran. Kesejukan dalam demokrasi harus terus dijaga dengan tetap berlandasakan penegakan hukum. "Siapa yang menabur angin, dia akan menuai badai," katanya.
Kisruh dualisme di tubuh PPP dan Golkar hingga saat ini belum berakhir. Jika di Golkar ada Aburizal Bakrie dan Agung Laksono yang mengklaim sebagai Ketua Umum yang sah, maka di PPP ada Djan Faridz dan Romahurmuziy. (Baca juga: Agung Laksono: Sah di Mata Pemerintah, Lumpuh di DPR)
Dualisme kepengurusan ini juga berimbas pada arah koalisi politik. Golkar di bawah kepemimpinan Aburizal yang sejak awal bergabung dalam KMP, namun oleh Agung dinyatakan tak lagi ada di dalam KMP.
Sementara PPP dibawah kepemimpinan Romuhurmuziy juga menyatakan kaluar dari KMP dan beralih ke Koalisi Indonesia Hebat. Padahal sebelumnya PPP dibawah kepemimpinan Suryadharma Ali yang kemudian digantikan oleh Djan Faridz adalah anggota KMP. (Baca juga: Gerah dengan Kisruh PPP, Hamzah Haz Minta Satu Kubu Mengalah) (sur)