“Nanan bukan orang baru. Kami semua di DPP PDIP bukan anak kemarin sore. Jika peran Nanan tak terlalu terlihat, bukan berarti dia tak ada. Dia banyak memberikan masukan dan arahan bagi partai. Dia penjaga PDIP agar partai tak keluar dari garis ideologinya,” kata Andreas kepada CNN Indonesia, Senin (13/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Paduan musik dan ideologi itu ia wujudkan dalam bentuk grup band bernama Rodinda (Romantika, Dinamika, Dialektika) yang menyanyikan lagu-lagu bertema nasionalisme sebagai pesan kepada anak muda agar menjaga patriotisme mereka.
“Nanan sangat aktif. Di Ruang Situasi DPP, dia mengelola informasi dan data sebagai suplai untuk Ibu Ketua Umum. Dia juga hadir dalam rapat-rapat DPP dan ikut mempersiapkan kegiatan partai, mulai dari Kongres, Konferensi Daerah, hingga Konferensi Cabang PDIP,” kata Andreas.
Politikus peraih Doktor Politik Internasional dari Universitas Giessen, Jerman itu juga bercerita, Nanan selalu memberikan arahan detail dalam tiap kegiatan PDIP, dari soal materi sampai dekorasi. Dia pekerja teknis yang ulung.
Oleh sebab itu Nanan bukannya tak dikenal oleh pengurus-pengurus di daerah. “Mereka tahu Nanan. Hanya karakter Nanan memang tak suka menonjolkan diri,” ujar Andreas.
Soal watak Nanan yang lebih senang menjadi sutradara di balik layar itu juga pernah dikemukakan Jokowi saat belum menjabat sebagai Presiden. “Prananda punya potensi besar. Cara pengorganisasiannya detail. Orangnya memang tak menonjol, tapi bisa dekat dengan siapapun,” kata Jokowi.
Watak itu pula yang membuat Nanan langsung ‘menghilang’ dari arena Kongres IV PDIP begitu ia selesai dilantik menjadi Ketua DPP oleh Megawati. Sepanjang prosesi pelantikan, Nanan pun lebih banyak menundukkan kepala bila tak sedang mengobrol dengan orang di kanan-kirinya.
Hubungan Nanan dengan Megawati disebut Andreas sangat dekat. Apa yang membuat Nanan akhirnya bersedia masuk ke jajaran pengurus inti partai, menurut Andreas hanya diketahui mereka berdua. Sebelum ini, Nanan bahkan pernah menolak diberi jabatan utama di DPP PDIP.
(Baca: Akhir Kerja ‘Sunyi’ Prananda Prabowo, Putra Mahkota Megawati)
Yang jelas, elite PDIP menegaskan Prananda dan Puan Maharani bakal digembleng menjadi pemimpin masa depan partai. Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto dan politikus senior PDIP Pramono Anung menyatakan waktu lima tahun menuju Kongres PDIP 2020 cukup untuk mematangkan pengalaman dan posisi politik Puan dan Nanan. (agk)