Munas Luar Biasa Golkar dijadwalkan berlangsung selambat-lambatnya 2016 seperti diamanatkan Mahkamah Partai Golkar. Namun Titiek berpendapat lebih cepat Munas digelar, lebih baik bagi upaya perdamaian antara dua kubu di partai beringin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Munas sebelumnya yang digelar akhir 2014 membawa Partai Golkar ke jurang perpecahan. Munas Bali yang digelar kubu Aburizal mengukuhkan Ical sebagai ketua umum, sedangkan Munas Ancol yang digelar kubu Agung mengukuhkan Agung sebagai ketua umum.
Simak selengkapnya di FOKUS: Jalan Tommy ke Pucuk Beringin
Jika Munas Luar Biasa Golkar digelar tahun ini atau tahun depan, Tommy kemungkinan bakal mencalonkan diri sebagai ketua umum. Kepada pengacara sekaligus orang dekatnya, Elza Syarief, Tommy beberapa kali mengatakan jika nanti dia diminta memimpin Golkar, maka ia berharap hal itu bukan karena uang yang ia miliki, tapi karena Golkar memang membutuhkan dia untuk berjuang bersama membesarkan partai. (Baca cerita Elza: Tommy Soeharto Bisa Pimpin Golkar, Sudah Bertemu DPD I)
Ini bukan kali pertama sang ‘Pangeran Cendana’ tertarik untuk memimpin Golkar. Tommy telah punya pengalaman menjadi kandidat Ketua Umum Golkar pada Munas Golkar 2009. Ketika itu ia maju bersama Surya Paloh, Ical, dan Yuddy Chrisnandi. Namun dia dan Yuddy langsung tersingkir karena tidak memperoleh satu pun suara. Pertarungan akhirnya dimenangkan Ical. (Baca: Calon Penantang Potensial Tommy Soeharto di Munas Golkar 2016) (agk)