Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasional (PAN). Viva Yoga Mauladi mengatakan pembentukan partai yang dilakukan oleh Rhoma Irama merupakan bagian dari kebebasan berpendapat. Ia mengingatkan, untuk membentuk sebuah partai besar harus memenuhi berbagai persyaratan.
"Bagus ya, itu merupakan sebuah bentuk kebebasan pendapat. Tapi, ada beberapa syarat bagi setiap partai politik untuk menjadi besar," ujar Viva kepada CNN Indonesia, Sabtu (11/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selain itu, harus ada proses demokrasi didalam tubuh partai dan logistik yang kuat untuk menjalankan partai," ujarnya.
Dengan mendirikan partai sendiri, Rhoma makin jelas untuk turun ke politik praktis. Manuver politik Rhoma terbilang mengejutkan. Sebelumnya ia digadang-gadang akan menjadi ketua umum Partai Bulan Bintang (PBB), namun justru Yusril Ihza Mahendra yang terpilih dalam Muktamar PBB pada bulan April 2015 lalu.
Salah satu manuvernya yang luar biasa di politik adalah dengan menyatakan maju sebagai calon presiden di 2014 lalu. Rhoma menyebutnya itu adalah permintaan dari rakyat Indonesia.
Dengan posisinya sebagai ikon dangdut, penyataan Rhoma Irama langsung direspons. (Baca juga: Lembaga Pengatur Royalti Musik Dibentuk, Rhoma Komisioner)
PKB kemudian menggandengnya dan mengkampanyekan Rhoma kemana-mana sebagai calon presiden dari PKB. Hasilnya cukup di luar dugaan. PKB mendapat 9,04 persen suara dan ada di peringkat 5 hasil KPU. Bukan itu saja, PKB yang saat itu terpecah antara kubu Muhaimin Iskandar dengan kubu Gus Dur menjadi partai Islam yang suaranya paling banyak.
Rhoma disebut-sebut memberikan sumbangan suara ke PKB sekitar 3 persen. Sayangnya, usai Pileg, Rhoma seperti dibuang oleh PKB. Dia tidak diajukan sebagai calon presiden atau calon wakil presiden resmi dari PKB. Malah PKB mengajukan calon ketua umumnya sendiri yaitu Muhaimin Iskandar. (hel)