"Ancaman yang bersifat militer dalam skala yang besar nyaris tak ada. Tapi bukan artinya sama sekali tidak ada," kata Ryamizard saat membuka acara diskusi Pusdiklat Bela Negara di Jakarta, Jumat (31/7).
Ryamizard membeberkan hingga saat ini pemerintah belum mendeteksi adanya ancaman militer yang berpotensi mengganggu kedaulatan negara. “Masalah terorisme dan radikalisme itu yang justru merupakan ancaman nyata. Ancaman seluruh dunia. Kemudian separatis dan pemberontakan. Meski angkanya kecil, potensinya ada. Di setiap negara pasti ada," kata dia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selama ini berapa ribu triliun sumber daya alam Indonesia yang sudah dicuri. Ikan di bagian timur itu mampu menghidupi setengah penduduk dunia. Tapi tidak dimanfaatkan, malah orang lain yang ambil," ujar mantan Kepala Staf Angkatan Darat itu.
Namun dari segudang isu kesehatan, masalah peredaran dan penyalahgunaan narkotik dinilai sang menteri sebagai salah satu yang paling bahaya.
"Menurut data setiap bulan ada 50 orang yang mati karena narkoba, kalau satu tahun 18 ribu orang yang mati. Belum lagi yang direhabilitasi ada 4,5 juta dan 1,2 juta tidak bisa diobati. Ini bahaya betul," kata dia.
Menanggapi semua ancaman itu, Ryamizard lantas menyatakan bahwa Indonesia perlu melakukan penyesuaian alat utama sistem pertahanan (alutsista).
"Misalnya untuk bencana alam. Alat harus kita beli, seperti pesawat yang lebih besar bisa mengangkut alat berat ke tempat bencana. Jadi Malam ini bencana besok sudah bekerja," ujar Ryamizard. Jangan sampai, lanjutnya, “alutsista disiapkan untuk ancaman yang belum nyata saja.” (sip)