Ryamizard pun membenarkan bahwa Gubernur Papua Lukas Enembe tidak menyambut dua kunjungan Presiden Joko Widodo ke provinsi tersebut. (Baca: Kepala Daerah di Papua Lebih Banyak Berada di Jakarta)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, menurut Ryamizard, uang sebesar Rp 37 triliun itu sangat besar jika dibandingkan dengan jumlah penduduk di Papua. Anggaran tersebut juga lebih banyak ketimbang bagi hasil yang didapatkan pemerintah dari Freeport per tahun.
Jika membandingkan dana pembangunan Papua dari pemerintah pusat dengan jumlah penduduk pada tahun itu, maka setiap penduduk di provinsi itu akan mendapatkan kurang lebih Rp 13 juta.
"Ini setiap tahun Rp 37 triliun untuk Papua. Penduduk di sana berapa? Tidak sampai tiga juta? Rp 37 triliun dibagi tiga juta berapa. Tapi duitnya mana," ungkap Ryamizard.
Kemarin, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Luhut Binsar Pandjaitan, juga menunjukkan keheranannya dengan perilaku para pejabat Papua. (Baca: Luhut Heran Gubernur Papua Tak Pernah Ada Saat Jokowi Datang)
"Presiden datang dua kali ke sana, gubernur tidak ada. Wakil gubernur juga tidak ada," ujarnya di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (18/8) malam.
Pernyataan Luhut ini merupakan lanjutan dari pembahasan antarmenteri dan pimpinan lembaga negara di bawah koordinasi Menko Polhukam, pada rapat tertutup, Selasa sore.
Setelah rapat itu Luhut mempublikasikan laporan Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, kepadanya. "Banyak pejabat di daerah sana yang tidak tinggal di daerah pemerintahannya melainkan banyak membuang waktu di Jakarta dan tempat lain," ujarnya. (obs)