Wakil Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Ahmad Basarah mengatakan Rakernas akan mengambil tema mewujudkan Trisakti dengan Pembangunan Nasional Semesta Berencana.
Tema ini dijelaskannya merupakan salah satu cita-cita Presiden Indonesia pertama, Soekarno. Rakernas sendiri akan dibuka langsung oleh Megawati.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Panggung Politik yang Penuh Kegaduhan |
Calon kepala daerah yang memenangi Pilkada serentak 2015, juga akan mendapat arahan khusus dalam Rakernas. Basarah berharap calon kepala daerah dapat mensinergikan pembangunan pusat dengan daerahnya masing-masing.
"Kami juga akan mengundang Menteri Koordinator dan Menteri untuk mencapai satu visi dan misi," ucap Basarah.
Menelurkan Tiga Opsi
Basarah menjelaskan pembahasan konsep Pembangunan Nasional Semesta Berencana akan melibatkan kader struktur partai, kader di eksekutif dan legislatif. Sebab, hal ini akan dijadikan uji coba bagi PDI Perjuangan sebelum diimplementasikan konsep tersebut di ranah nasional.
"Sambil menunggu proses itu berjalan, kami akan uji coba implementasi Pembangunan Nasional Semesta Berencana di internal PDI Perjuangan," ujar Basarah.
"Kedua perubahan UU Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, dan UU Nomor 17 tahun 2007 Rencana Pembangunan Jangka Panjang disesuaikan dengan konsepsi pembangunan Indonesia secara keseluruhan," ucap Basarah.
Sedangkan opsi yang ketiga adalah merubah UU Nomir 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Menurutnya pada pasal 7 UU tersebut, disebutkan Tap MPR masih masuk dalam norma hukum.
Ditemui terpisah, Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman Adam, mengatakan Pembangunan Nasional Semesta Berencana diterapkan Presiden Soekarno pada era 1960-1969 dalam rangka menghadapi situasi nasional dan tekanan internasional, sehingga pembangunan Indonesia menjadi terarah.
"Ini digunakan untuk menjawab situasi nasional yang dimana banyak pemberontakan dan tekanan internasional yang menginginkan Indonesia masuk dalam satu blok yang tengah berseteru," kata Asvi.
Menurutnya, hal itu dibuktikan dengan banyaknya pencapaian yang diraih, seperti kembalinya Irian Barat ditengah Indonesia belum merdeka 100 persen, pembangunan dengan dana rampasan perang jepang dari Monas, Hotel Indonesia, menara tranmisi TVRI, Sarinah, dan wisma negara. (pit)