Yayat beralasan figur istimewa diperlukan lantaran kompleksnya masalah perkotaan di Jakarta. Dia berargumen apakah kandidat-kandidat yang muncul melawan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok punya ide atau gagasan yang lebih brilian dari sang petahana. “Ahok memanfaatkan birokrasi sebagai ujung tombak sebagai mesin kerjanya,” kata Yayat saat dihubungi CNN Indonesia.com, Sabtu (13/2).
Melalui birokrasi, Ahok kata Yayat berhasil menjalankan semua wacana yang pernah dijanjikannya kepada publik. Beberapa contoh di antaranya adalah pembelian bus-bus untuk dipakai sebagai wahana transportasi massal, menata sungai, hingga memecat camat yang dianggap tidak bekerja dengan baik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Ini hanya akan menguntungkan partai pengusungnya (PKB) saja. Kandidatnya harus super-super istimewa,” kata Yayat.
Meski terlihat sulit membendung Ahok namun Yayat melihat ada potensi yang bisa dipakai melawan bekas bupati Belitung Timur tersebut. Salah satunya adalah menggaet suara dari akar rumput. Ia melihat Ahok jarang turun ke kampung-kampung meski mendapat dukungan dari media. Kelompok perempuan juga belum mendapat tempat di hati pemimpin Jakarta. Namun, meski begitu pada akhirnya pertarungan menjadi pemimpin DKI satu katanya adalah sebuh persaingan antara kelas menengah atas dan bawah. (bag)