Pernyataan itu ia lontarkan menanggapi keputusan Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas kabinet di Istana pada Selasa lalu untuk menaikkan anggaran Kemenhan dan TNI sebesar 1,1 persen PDB atau sekitar Rp180 triliun.
"Kalau anggaran naik, harus dialokasikan untuk belanja modal. Kalau sekarang, dengan anggaran sekitar Rp99 triliun, untuk belanja modal hanya Rp30 triliun. Sementara, sebanyak 70 persen anggaran digunakan untuk belanja pegawai," kata Mahfudz saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (25/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti diberitakan sebelumnya, Jokowi meminta Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk memaksimalkan pemanfaatan anggaran demi kemajuan alat utama sistem persenjataan (alutsista).
Lebih lanjut, Jokowi menekankan peningkatan pemanfaatan alutsista tersebut sejalan dengan peningkatan anggaran yang dialokasikan pemerintah kepada TNI. Ia mencontohkan anggaran TNI pada masa lalu sejumlah 0,89 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Sementara, saat ini, anggaran TNI mencapai 1,1 persen dari PDB.
Angka tersebut bisa bertambah lebih banyak, kata Jokowi, jika pertumbuhan ekonomi Indonesia terus membaik ke angka 6 persen. "Kalau naik di atas 6 persen maka anggaran naik jadi 1,5 persen dari PDB. Ini jumlah luar biasa karena mencapai hingga Rp250 triliun," kata Jokowi.
Oleh karena itu, kata Jokowi, dibutuhkan sebuah perencanaan anggaran yang matang, detail dan terinci agar anggaran TNI dapat digunakan dengan baik, tepat guna dan terencana sejak awal.
Selain menekankan pada maksimalisasi penggunaan anggaran, Jokowi juga menekankan kepada peserta rapat perlunya penggunaan produk pertahanan keamanan dalam negeri.
(obs)