Niatan tersebut muncul menyusul beredarnya absensi paripurna yang diduga memuat tanda tangan Setya Novanto, meski yang bersangkutan diketahui sedang berada di luar kota.
"Saya kira kita perlu evaluasi secara keseluruhan. Bahwa paripurna itu wajib bagi seluruh anggota," ujar Fadli di Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (26/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wakil Ketua MKD Sufmi Dasco Ahmad menyatakan pihaknya akan mengecek persoalan absensi anggota dewan ke Sekretariat Jenderal DPR. Dia menilai tanda tangan Setya Novanto sebagai bentuk kecolongan jika benar terjadi.
"Mereka biasanya memastikan. Kan bisa saja mereka lagi ngobrol lalu kecolongan. Lewat CCTV paling bagus. Sebenarnya kami lebih suka pakai finger print karena tidak bisa dipalsukan," kata Sufmi.
Beredarnya tandatangan absensi rapat paripurna diawali dari cuitan akun @LalaBinal di media sosial Twitter. Dalam cuitannya dia mengunggah foto absensi sekaligus foto Setya yang diklaimnya bersama salah seorang pengurus Golkar di Sulawesi Utara.
Kolega sekaligus Bendahara Fraksi Partai Golkar Robert Kardinal, menganggap beredarnya tanda tangan Setya Novanto saat rapat paripurna, Selasa (23/2), sebagai bentuk permainan politik jelang gelaran musyawarah nasional (Munas).