"Banyak yang bilang citra itu lebih penting dari kebenaran, karena citra segala-galanya untuk pemilu. Saya tidak peduli dengan citra itu, kalau saya anggap benar, saya anggap benar," kata Ade di Gedung DPR RI, Selasa (29/3).
Menurutnya ketidakpercayaan dari masyarakat terhadap pembanguan perpustakaan adalah sebuah tantangan bagi dirinya untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada parlemen.
"Itu satu realitas yang saya harus perbaiki. Tidak bisa diperbaiki dalam tempo satu atau dua hari. Itu satu realitas itu harus saya terima," tuturnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Publik mengatakan DPR tidak boleh dipercaya, itu tantangan yang tidak mudah saya hadapi. Namun itu adalah realitas yang harus saya hadapi," ujarnya.
"Itu usulan bagus. Saya siap hadapi baik luar (parlemen), dalam parlemen (fraksi-fraksi) termasuk jika pemerintah yang menolak," ujar Ade di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (28/3).
Usulan pembangunan perpustakaan disampaikan cendikiawan pada Selasa pekan lalu. Mereka mengusulkan agar DPR memiliki perpustakaan terbesar di Asia Tenggara. Perpustakaan bakal diisi 600 ribu buku. (sip)