Meski demikian, menurutnya, asal-usul uang 'saweran' tersebut harus ditelusuri. Idrus menjelaskan, uang sumbangan gotong-royong itu merupakan bentuk kreasi politik yang dikembangkan oleh Steering Committee Munaslub tentang adanya kontribusi dari kader.
Menurutnya, hal itu adalah kreatifitas yang perlu diapresiasi, karena dasar pemikiran salah satu sumber dana Partai Golkar sebenarnya berasal dari iuran dan sumbangan anggota.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Maka khusus untuk anggota ini ya kami apresiasi. Cuma berapa besarnya nanti akan kami bicarakan dalam rapat pleno. Karena rapat pleno merupakan forum pengambilan keputusan yang diatur oleh AD/ART Partai Golkar," katanya.
Meski demikian, Idrus membantah bahwa calon ketua umum harus memiliki banyak uang sehingga bisa membayarkan sumbangan dengan nilai yang cukup besar.
Ia menuturkan, selama ini, tiap kader partai beringin diwajibkan untuk membayar iuran sejumlah Rp100 ribu per bulannya. Sedangkan untuk Munaslub ini, katanya, uang sumbangan diberikan sesuai kemampuan pribadi setiap kader dan calon ketua umum.
"Misalnya wacana pertama itu Rp20 miliar (per calon ketua umum), sekarang sudah turun jadi Rp5 miliar, mungkin besok turun lagi. Jadi yang penting kan ada niat yang baik, ada komitmen yang sama untuk gotong-royong, untuk urun rembuk," ujarnya.
Idrus menegaskan, asal-usul uang sumbangan gotong-royong juga perlu dilihat mengingat tema Munaslub kali ini yang tidak hanya menggaungkan politik yang demokratis, berkeadilan, dan rekonsiliatif, melainkan juga jujur dan bersih.
"Maka, asal-usul keuangan juga perlu ditelusuri," katanya.
Selain itu, imbuh Idrus, dalam rangka mewujudkan Munaslub yang bersih, Steering Committee juga akan membuat instrumen-instrumen agar jangan sampai nanti ada politik uang (money politic) dan politik transaksi.
Jika ada money politic atau transaksi, ucapnya, maka Steering Committe akan mengambil sikap tegas yakni calon ketua umum yang bersangkutan akan didiskualifikasi dan DPD yang menerima yang akan dianulir hak sebagai peserta Munaslub.
"Jadi saya kira ini menghargai komitmen Steering Committee yang ada, karena memang masalah bangsa yang ada hari ini bukan hanya masalah Golkar, tapi juga berkembangnya pragmatisme politik, politik transaksi, money politics, dan sebagainya," ujarnya. (meg)