Selain itu, kata dia, posisi yang diputuskan dalam Munaslub adalah Ketua Umum Setya Novanto dan Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Aburizal Bakrie. Untuk posisi lain menurut Ahmadi belum disahkan.
"Ketua harian, Sekretaris Jenderal, Bendahara Umum, itu bukan produk Munaslub. Itu harus produk formatur," kata Supit saat dihubungi, Selasa (24/5).
Dengan demikian, dia menegaskan, posisi Ketua Harian oleh Nurdin Halid, Sekretaris Jenderal yang sudah disandang Idrus Marham dan Bendahara Umum Robert Kardinal masih dapat berubah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu kepengurusan baru harus mampu mengakomodasi semua pihak yang berkompetisi dalam Munaslub. Struktur kepengurusan ini harus mencerminkan wujud rekonsiliasi partai usai konflik.
Supit juga mengaku tidak mempermasalahkan jika posisi wakil ketua umum yang rencananya akan dihapus dalam kepengurusan baru. Selama rekonsiliatif, lanjutnya, hal itu tidak menjadi masalah.
Setelah Munaslub Golkar di Bali memilih Setya Novanto sebagai Ketua Umum dan Aburizal Bakrie sebagai Ketua Dewan Pembina, beberapa jabatan penting langsung ditunjuk yakni Ketua Harian, Sekjen dan Bendahara Umum. (sur)