Dalam pokok perkara bernomor 31/PUU-XIV/2016 ini, PPP selaku pemohon merasa keberatan dengan aturan dalam pasal 23 ayat 3 dan pasal 24 Undang-undang Partai Politik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut salah satu pemohon, Iqbal, perubahan kepengurusan parpol sebaiknya cukup diberitahukan ke Kemenkumham, bukan disahkan.
Permohonan uji materi berawal dari keputusan Mahkamah Agung yang membatalkan Surat Keputusan Menkumham soal pengesahan pengurus PPP muktamar Surabaya kubu Romahurmuziy. Keputusan ini membuat Yasonna mencabut SK pengesahan pengurus PPP kubu Romahurmuziy.
Di satu sisi kubu Djan Faridz mengajukan pendaftaran kepengurusan hasil muktamar Jakarta. Namun Yasonna mengatakan persyaratan tak dapat dipenuhi seluruhnya.
Untuk mengisi kekosongan pengurus, Yasonna menghidupkan kembali pengurus hasil muktamar di Bandung 2011 lalu. Dalam muktamar itu Ketua PPP adalah Suryadharma Ali dan Sekretaris Jenderal Romahumuziy. Hingga kemudian Menkumham mengesahkan dan menerbitkan SK kepengurusan PPP hasil muktamar Pondok Gede pada April lalu.
Kepengurusan yang dipimpin Ketua Umum Romahurmuziy dan Sekretaris Jenderal Arsul Sani ini dinilai telah mengakomodasi hasil muktamar Bandung, Jakarta, dan Surabaya. Dengan pengesahan pengurus ini maka otomatis menonaktifkan SK Muktamar Bandung yang sebelumnya sempat diaktifkan.
"Kalau terjadi sengketa harusnya sudah cukup didaftarkan saja ke Kemenkumham. Dasarnya ya dengan putusan hasil pengadilan yang sudah incracht, tidak perlu lagi pengesahan," kata Iqbal. (sur)