"Saya bilang (jalur Pilkada) diumumkan habis lebaran. Kalau di kampung saya, sepanjang bulan Syawal adalah lebaran," kata Ahok di Balai Kota, Jakarta, Senin (11/7).
Itu artinya, Ahok baru akan memutuskan pilihannya setelah bulan Syawal dalam kalender Hijriyah berakhir, yaitu bertepatan dengan tanggal 3 Agustus mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ahok masih gamang antara jalur independen antara parpol. Dia menargetkan batas waktu memutuskan jalur yang dipilihnya setelah lebaran. "Ada, mesti ada batas waktu. Ya minimal habis lebaran lah kali," kata Ahok, 20 Juni lalu.
Sebelumnya ada perbedaan pendapat di antara warga Jakarta yang ikut mengumpulkan KTP melalui Teman Ahok. Salah seorang warga Jakarta yang ikut menyerahkan KTP, Dwita Anggiaria mengatakan, Ahok tak membutuhkan pinangan partai lantaran jumlah KTP terkumpul saat itu telah mendekati target.
Dwita sangat skeptis terhadap pendekatan yang gencar dilakukan sejumlah partai politik kepada Ahok. “Saya lebih suka Ahok tetap di jalur independen karena saya mau pemimpin saya bebas dari tekanan politik pihak mana pun,” tutur Dwita beberapa waktu lalu.
Sementara itu, Staf Accounting & Finance PT Transwepp Interanasional Halim Leonardi Sanjaya tak menyoalkan kendaraan politik yang digunakan Ahok untuk melanjutkan kiprahnya sebagai Gubernur Jakarta. Menggunakan jalur independen atau menumpang dukungan parpol, bagi Halim sama saja.
“Enggak masalah kalau memang harus lewat partai, sama saja. Yang penting jadi gubernur lagi,” kata Halim.
Menurut Halim, dalam memilih calon pemimpin, dia lebih mengedepankan figur ketimbang partai. Dia juga tak khawatir bahwa keberadaan partai politik akan mengganggu independensi Ahok.
“Saya percaya Ahok enggak akan terpengaruh,” ujarnya. (rdk)