"Jika Partai Golkar dan PAN mendapatkan jatah menteri, maka kursi menteri non-parpol yang seharusnya digeser, sehingga kinerja pemerintahan akan tetap solid," katanya seperti dilansir ANTARA, Rabu (13/7).
Hanya saja, lanjut dia, jika Golkar mengincar jatah menteri, maka benturannya akan keras, karena Golkar tidak mendukung Jokowi saat Pilpres, dan datang belakangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Menerka Sinyal Reshuffle Kabinet dari Istana |
Menurut dia, saat ini, menteri dari parpol hanya diberi posisi tidak strategis. Jika presiden hendak melakukan "reshuffle" kabinet dengan memasukkan PAN dan Golkar, maka yang seharusnya diambil adalah posisi menteri non-parpol dan posisinya juga strategis.
“Jadi, sangat realistis ambil jatah non-parpol. Di samping tidak ada benturan politiknya, komposisi sekarang tidak berimbang, non-parpol 20 menteri, dari parpol hanya 14 menteri,” imbuh dia.
"Soal daging saja sejak mau puasa sampai sekarang harganya malah terus naik," tegas Heri.
Dari sisi kinerja, ia menambahkan, ekonomi Indonesia remuk dengan daya beli masyarakat turun, harga komoditas hancur, ekspor lemah, impor nambah, harga-harga bahan pokok naik terus.
Selain itu, dia juga menyebut 12 paket kebijakan ekonomi yang digalakkan pemerintah tidak jalan lantaran para menteri dari non-parpol tidak bisa menerjemahkan dengan implementasi konkret arahan presiden.
"Penanganan mudik kacau balau, pangan remuk, pajak tidak memenuhi target, hingga harus ada kebijakan pengampunan pajak,” pungkasnya.