Bagi Ahok, dukungan dari ketiga partai itu sudah sangat cukup untuk bertarung memperebutkan kembali kursi penguasa ibu kota negara. Bahkan Ahok yang mengaku bisa sejak awal maju ke Pilgub Jakarta 2017 tanpa partai karena telah memenuhi persyaratan untuk bisa maju melalui jalur perseorangan, mengklaim tak masalah bila tidak memperoleh dukungan dari PDI Perjuangan.
Pernah datangnya tawaran dukungan dari PDIP juga ditolak Ahok karena mensyaratkan harus mengikuti mekanisme di internal PDIP. Tak sedikit kader PDIP yang mengaku merasa tersinggung dengan penolakan mentah-mentah dari Ahok. Elite PDIP di tingkat kepengurusan pusat juga menyuarakan penolakan untuk Ahok. Di level pengurus daerah PDIP Jakarta, sudah secara tegas dan blak-blakan menolak sosok Ahok.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam beberapa kesempatan, Ahok dengan nada bangga juga acap menyatakan kedekatannya dengan sang penentu segala keputusan penting di PDIP itu. Lebih dari sekadar dekat, Ahok bahkan mengaku orangnya Megawati.
Perkembangan signifikan sinyal dukungan diperoleh Ahok dari hasil merapat ke Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, tempat Megawati berada saat itu. Ahok mengungkapkan bahwa Megawati lebih cenderung sama petahana. Artinya, sang ketua umum mengisyaratkan memberi dukungan kepada dirinya.
Lebih dari itu, kata Ahok, ”Yang pasti Bu Mega ngomong nggak perlu fit and proper test dan enggak perlu mendaftar karena aku sudah pernah terdaftar di tahun 2012. Itu Bu Mega ngomong.”
Ancaman kalah bahkan gagal maju Pilkada DKI Jakarta masih sangat mungkin terjadi bila Ahok tak meraup dukungan dari PDIP. Meski secara resmi sudah meraih dukungan dari tiga partai, Ahok sangat menyadari bukan tak mungkin digembosi. Bila salah satu partai penyokongnya menarik dukungan, bisa tamat riwayatnya untuk maju pilkada karena syarat dukungan minimal 22 kursi di DPRD tak dipenuhi.
Namun nyatanya, belum genap sebulan setelah mengeluarkan perkataan itu, Ahok menyambangi kantor PDIP untuk berharap meraih dukungan. Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengakui Ahok mengharapkan mendapat dukungan dari PDIP.
Keputusan Ahok ketika memilih jalur partai dengan meninggalkan jalur independen —yang sebelumnya gencar digaungkan Ahok— juga memantik reaksi negatif dari kalangan petinggi PDIP. Ketua Bidang Kehormatan DPP PDIP Komarudin Watubun terang-terangan menganggap Ahok tak konsisten sehingga tak selayaknya meraih dukungan PDIP.
Tapi pilkada adalah pertarungan perebutan kekuasaan, yang mungkin menjadi sulit untuk membedakan antara inkonsisten dengan segala upaya untuk mempertahankan kekuasaan. Pendekatan ke Megawati pun bakal terus dilancarkan Ahok hingga nantinya resmi dideklarasikannya dukungan. Dan seberapa pun besarnya penolakan terhadap Ahok dari para kader PDIP pada akhirnya nanti keputusan tetap di tangan Megawati seorang.
Lihat juga:Ahok Akui PDIP Belum Satu Suara Mengusungnya |
Termasuk harus bisa menelan "pil pahit" perkataan Ahok yang belum genap 10 hari dilontarkan yaitu soal keserakahan bila terus ingin menambah dukungan dari PDIP. "Kalau kamu punya istri tiga. Udah tiga masih merasa ditinggal? Gimana (bagaimana) coba? Serakah amat sih, tiga masih merasa kurang.” (obs/obs)