Menanggapi hal itu, Ruhut mengatakan ada orang-orang yang cemburu dengannya di sekeliling SBY. Jika kecemburuan itu meningkat, Ruhut mengisyaratkan akan mengikuti jejak Ahok menjadi tokoh independen nonpartai.
Dahulu, Ahok memutuskan keluar dari Partai Gerindra karena merasa makin tak cocok.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut isi pesan singkat SBY kepada Ruhut yang terbagi dalam empat butir.
2. Sudah cukup sering saya berikan peringatan terhadap pernyataan saudara, tetapi tidak diindahkan. Terus terang ini sangat merugikan kepentingan PD ke depan.
3.Melalui sistem yang belaku di PD, saya mempertimbangkan tindakan yang tepat untuk saudara. Dan untuk sementara saya menonaktifkan kedudukan saudara sebagai koordinator Jubir PD.
4. Untuk diindahkan dan dilaksanakan.
Soal SMS itu, menurut Ruhut, “Juru Bicara itu tidak ada dalam struktur kepengurusan partai. Jabatanku di Demokrat adalah Ketua Koordinator Politik Hukum dan Keamanan. Juru Bicara tidak ada secara kelembagaan. Itu kecemburuan mereka (orang di sekitar SBY) saja.”
Ruhut berkata, ada sejumlah hal yang membuat dia terlibat “keributan” dengan sejumlah anggota Demokrat lain. Semua itu karena Ruhut memiliki pandangan berbeda dengan partai.
“Misal waktu Putu Sudiartana tertangkap tangan, aku ingatkan berdasarkan pakta integritas partai, siapa yang korupsi dipecat. Putu tertangkap tangan, tapi mereka (kader Demokrat lain) bilang seolah-olah Demokrat dipojokkan oleh KPK,” kata Ruhut.
Keengganan Demokrat memberikan sanksi berat kepada Putu itu dikritik Ruhut. “KPK kan sudah bilang dia tertangkap tangan. Malu dong. Masak slogan partai ‘Katakan tidak pada korupsi’ menjadi ‘Katakan iya pada korupsi.’”
Sementara soal dukungannya kepada bakal calon petahana Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Ruhut mengatakan tak bakal mengubahnya meski Demokrat belum menentukan sikap soal Pilkada Jakarta.
“Aku tetap dukung Ahok, enggak akan berubah,” kata anggota Komisi III DPR itu. (agk/obs/obs)