Meski secara jumlah suara di kursi DPRD DKI Jakarta PDIP bisa mengusung calon sendiri, namun faktanya tak mudah bagi Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menetapkan calon.
Hadirnya Koalisi Kekeluargaan yang terdiri dari PDIP, Gerindra, Demokrat, PAN, PPP, PKB, dan PKS pun tidak langsung membuat Megawati memilih calon yang akan disokong.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ahok memang menjadi sorotan dalam pilkada ini. Ucapannya pun kerap menimbulkan kontroversi. Awalnya, ia memutuskan maju pilkada secara independen dengan kendaraan Teman Ahok.
Pengumpulan satu juta KTP tak mulus begitu saja. Di tengah semangat Teman Ahok berjuang, tersiar kabar adanya dana Rp30 miliar dari pengembang pada mereka. Dana tersebut disebut-sebut sebagai dana kampanye untuk Ahok.
Hal ini seperti diatur dalam pasal 47 UU Nomor 1 Tahun 2015 UU Pilkada, jika ditemukan adanya pelanggaran hukum dan administrasi.
Kehadiran calon independen, menurut Ahok, berguna untuk menahan laju gerakan masyarakat melakukan deparpolisasi. Selain itu, Ahok mengatakan bahwa mesin partai begitu mahal untuk masa kampanye.
Maju secara independen, Ahok memilih Heru Budi Hartono, Kepala Badan Pemeriksa Keuangan dan Aset Daerah sebagai cawagub. Ia juga sempat katakan maju secara independen ataupun parpol, dirinya akan tetap maju dengan Heru.
Pernyataan Ahok yang acap dianggap menghina partai politik diduga membuat Megawati sakit hati. Hal inilah yang dianggap sebagai satu faktor lamanya pemilihan nama cagub oleh PDIP.
Ahok lantas bimbang menentukan kendaraan mana yang dipilihnya. Ahok kemudian seringkali berucap partai politik lebih mudah dan tak berisiko ketimbang perseorangan. Namun, dia juga tak enak hati dengan Teman Ahok yang sudah mencapai target mengumpulkan satu juta KTP.
Pada 28 Juli, kebimbangan Ahok terjawab. Ia memutuskan maju bersama tiga parpol yang mendukungnya. Meski demikian, Ahok tetap inginkan dukungan dari partai penguasa, PDIP.
Saat masih berada di jalur independen, Ahok memilih berpasangan dengan Heru. Satu juta KTP sudah dikumpulkan Teman Ahok atas nama dukungan untuk Ahok dan Heru.
Namun, setelah menetapkan menggunakan jalur partai politik, Ahok dapat mengubah pendampingnya dalam pemilihan gubernur nanti.
Keputusannya maju lewat parpol tak lantas membuat PDIP menerimanya dengan tangan terbuka. Meski Ahok dengan percaya diri mengatakan PDIP akan mendukungnya namun banyak pihak yang pesimistis akan hal itu.
Ahok menginginkan diusung PDIP tanpa harus masuk menjadi kader PDIP maupun ikut pendaftaran penjaringan bakal calon di internal PDIP. Namun, mekanisme di PDIP mengharuskan Ahok masuk menjadi kader atau mengikuti pendaftaran penjaringan jika ingin meraih dukungan.
Di tengah maraknya opini publik terkait dukungan Ahok dari PDIP, nama Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang merupakan kader PDIP santer di Jakarta untuk diusung sebagai cagub. Risma sebelumnya juga disebut-sebut akan diusung PDIP untuk menjadi lawan Ahok.
Namun kini teka-teki PDIP bakal mengusung siapa terjawab sudah. Ketua umum partai berlambang kepala banteng moncong putih tersebut akhirnya memutuskan untuk mengusung Ahok sebagai cagub di Pilkada Jakarta 2017 meskipun Ahok tidak mengikuti mekanisme di PDIP, plus menyingkirkan Risma sebagai kader PDIP yang juga selama ini meraih begitu besar dukungan.
(obs)